Semalam di kota mu

Image

Baru saja saya terbangun dari tidur singkat namun cukup menyegarkan. Ketika melihat langit-langit yang berbeda dengan biasanya saya langsung tersadar, untung tidak jadi menginap di bandara. Ya, saat ini saya sedang berada di Haneda, Jepang. Sebuah kota di pinggir Tokyo yang menjadi pengampu bagi bandara Internasional (yang baru dipugar) Haneda, Tokyo, Jepang. Karena pesawat Internasional yang tiba disini sebagian besar malam hari, rencana awal saya adalah menginap di bandara sampai kereta pertama ke stasiun Tokyo sudah beroperasi. Pikir punya pikir, meneliti masukan dan pengalaman kawan-kawan di milis Indobackpacker, saya memutuskan untuk mencari hotel terdekat saja. Terutama karena sudah tambah usia, tubuh tidak terlalu fit lagi dan saya ingin hari kedua di Jepang bisa dimanfaatkan maksimal. Belum lagi saya membawa semua gadget elektronik yang penting; laptop, ipad dan kamera dslr, berbeda dengan gaya ‘lenggang kangkung’ saya yang biasanya. Jadilah saya memutuskan untuk mencari hotel di dekat bandara.

Setelah mempertimbangkan berbagai tawaran dan tarif hotel online, saya memutuskan untuk booking 1 kamar single di Tokoyoko Inn. Dengan harga 6890 yen, inilah tawaran termurah yang bisa saya peroleh saat itu. Ya memang masih cukup mahal bila dikonversi ke rupiah. Namun mempertimbangkan bahwa saya perlu kamar mandi sendiri, bebas mengisi baterai seluruh perangkat elektronik, bebas mengaur ulang barang bawaan saya dan mendapatkan privasi untuk membuka paket makanan yang saya bawa dari Indonesia tanpa sungkan. Bila saya pergi dengan bawaan lebih ringan dan kasual, tentu saya lebih memilih penginapan tipe dorm atau kapsul hotel yang khusus wanita. Oh ya, satu lagi yang saya pertimbangkan adalah, dengan menginap di hotel yang sedekat mungkin dari bandara memudahkan transportasi saya di tengah malam saat baru turun dari pesawat. Tidak perlu mencari-cari kereta, keluar masuk stasiun, lalu mencari-cari alamat hotel. Di petunjuk transportasi pada situs hotel tersebut menyebutkan adanya shuttle bus gratis dari bandara Haneda ke hotel setiap sekian menit sekali. Okelah, saya mantap melakukan reservasi.

Saat turun dari pesawat, langsung saja saya didera hujan rintik-rintik dan angin kencang. Dalam hati saya berkata, ya Tuhan saya salah kalkulasi cuaca. Bawaan saya baju musim panas yang tipis dan melayang, sementara sentuhan pertama dengan udara malam Jepang membuat gigi gemeletuk dan perut kembung. Tetapi menit berikutnya saya sudah tersenyum melihat bangunan bandara yang familiar, dengan suara berlagu khas milik wanita-wanita Jepang yang menenangkan. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini terjadi antrian cukup panjang di loket imigrasi. Mungkin karena masih berada di akhir low season, sehingga cukup banyak turis yang memanfaatkan tiket murah. Setelah lewat imigrasi, lagi-lagi berbeda dengan tahun lalu, saya menunggu bagasi dengan resah. Bukan resah karena cemas akan keselamatan bagasi saya, tetapi cemas saya akan tiba di hotel terlambat dari perkiraan waktu check-in yang saya cantumkan di formulir reservasi online. Bukan apa-apa, saya hanya tidak ingin didenda uang seharga menginap 1 malam.

Akhirnya bagasi saya terlihat dipelupuk mata, langsung saya sambar dan bergegas kebagian custom. Disana saya memlih petugas yang ‘bapak-bapak’, karena mereka cenderung lebih ramah pada pengunjung perempuan. Berhasil lolos dengan cepat membuat saya makin bersemangat mendorong troli menuju bagian informasi untuk menanyakan halte shuttle bus tadi. Mba-mba di bagian informasi langsung membuka-buka map dengan cepat, setelah saya menanyakan tempat menunggu bus. Saya semakin tidak sabar melihat ia masih mencari-cari sesuatu dengan membolak-balik lembaran berlapis plastik tersebut berulang kali. Hampir saja saya menyela dan meminta ia menunjukkan saja dengan tangan kearah mana saya harus jalan, nanti akan saya cari sendiri. Saya pikir ia mencari peta gambar denah menuju ke halte bus tadi, rupanya bukan. Ia mencari jadwal kedatangan bus yang khusus dari dan ke Tokoyoko Inn, lalu mencocokkan dengan waktu saat itu dan menjelaskan bahwa saya sudah ketinggalan bus yang pukul 23.02 tapi bisa menunggu untuk yang 23.12 di platform ‘Group Bus‘. Kembali saja saya tersenyum lebar. Khas sekali gaya memberikan informasi yang lengkap dan tailore-made detik per detik-nya, karakter orang Jepang. Saya mengucapkan terima kasih lalu bergegas mencari tanda-tanda ‘Group Bus’. Walau terus terang saja, waktu itu saya tidak yakin ia menyebutkan kata ‘Group’. Yang terdengar di telinga saya adalah ‘golup’ atau ‘bolup’ atau ‘blou’. Insting saya condong mengartikannya sebagai ‘Group’, dan ternyata saya menemukan petunjuk arah bertuliskan ‘Group Bus’. Menghembuskan nafas separuh lega, saya menggotong kopor ke eskalator menuju parkiran bus 1 lantai ke bawah.

Yang mengherankan, sama sekali tidak ada petugas berjaga-jaga di ruang parkir tersebut. Sehingga saya tidak bisa bertanya, apakah ini tempat yang benar atau bukan. Saya bertanya pada sesama penunggu bus yang sedang celingak-celinguk, turis-turis bule dan wajah asia yang ada, mereka hanya mengangkat bahu. Sama-sama bingung. Tidak sabar dan cemas akan tertinggal bus 23.12, saya mengetuk pintu salah satu bus yang sedang parkir dan menanyakan pada supir yang tidak berbahasa Inggris tersebut. Saya cukup menyebutkan “Tokoyoko Inn” , beliau dengan semangat langsung menunjukkan slot parkir kosong disebelahnya. Oke, setidaknya saya sudah berada di tempat yang tepat. Saya pun menunggu di lapangan parkir yang berangin kencang itu. Kecemasan saya meningkat saat saya melihat ada bus berlogo “JAL city…..” menempati slot parkir tadi, namun supirnya menggelengkan kepala saat saya menyebutkan Tokoyoko Inn.

Waduh jangan-jangan salah, bathin saya. Sementara waktu sudah menunjukkan 23.09. Saya pun mondar-mandir dari ujung ke ujung lapangan parkir tersebut menanyakan pada supir-supir bus yang ada. Dalam hati saya berdoa dengan kencang. Tepat pukul 23.11, saya melihat ada bus putih parkir melintang di slot yang ditunjukkan supir pertama tadi. Pengemudinya turun dan menyerukan “Tok-yoko Ing! Tok-yoko Ing!” , hati saya langsung menyerukan syukur. Saat saya mendekat, ternyata di badan bus tadi tertulis besar-besar “Tokoyoko Inn“. Oh jadi setiap hotel memiliki armada shuttle bus sendiri-sendiri, bukan seperti shuttle bus Transjakarta yang satu untuk semua, seperti perkiraan saya.

Bus tadi berjalan sekitar sepuluh menit-an memasuki kota Haneda, lalu tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Saya lihat ke kiri ada semacam front office mungil yang dipenuhi orang mengantri. Wah, ternyata kecil sekali penginapan ini, pikir saya. Selesai mengurus check in, yang ternyata kalau kita sudah booking online langsung dialokasikan kamar untuk setiap form reservasi, saya langsung naik ke lantai tujuh. Begitu masuk ke kamar, segera saya mensyukuri keputusan mengeluarkan uang 7000 yen. Walau mungil, namun kamar ini bersih sekali dan tersedia segala keperluan dasar yang saya perlukan termasuk akses internet plus kabel LAN-nya.

petit, fit for retreat

petit, fit for retreat

Hingga pagi tadi saat saya membuka mata, lalu membuka tirai jendela dan melihat bagaimana pukul setengah lima pagi kota Haneda sudah terang benderang. Saya kembali mensyukuri keputusan menginap di hotel dekat bandara.

Haneda 05.00 pagi

Haneda 05.00 pagi

Kini setelah beristirahat dengan semestinya lalu mandi, tubuh terasa segar dan siap berpetualang. Layaknya seorang backpacker sejati yang pantang menyia-nyiakan fasilitas sarapan, saya mengisi perut dengan sarapan gaya Jepang yang sederhana.

Sarapan sederhana di Tokoyoko Inn

Sarapan sederhana di Tokoyoko Inn

Tujuan berikutnya adalah, menukar JR exchange pass dengan JR pass dulu di stasiun terdekat.

Catatan tambahan:

Kali berikutnya saya ke Jepang, dengan bawaan minimal, ingin juga mencoba fasilitas Nap rooms and Shower rooms yang baru dari bandara Haneda. Bedanya lumayan dengan tarif hotel, walau privasi jelas minimal. Tarif hotel terdekat yang tidak perlu naik turun kereta rata-rata 6000-8000 yen semalam. Menginap di bandara Haneda cukup 1000 yen untuk kursi-tidur dan 800 yen untuk mandi (lengkap dengan toiletteries). Selain masalah privasi, terbatasnya jumlah kursi ini juga harus jadi pertimbangan. Satu lagi, bila tidak yakin dengan keamanan barang saat kita tertidur bisa menggunakan loker koin dengan harga bervariasi 300-800 yen. Informasi ini baru kemarin saya sadari ada di situsnya bandara Haneda. Itulah kalau terburu-buru, rasanya sudah riset lengkap, masih saja ada yang terlewat. Bisa dilihat selengkapnya disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s