Pasca Euforia

Kabut di Kanayama, Nagoya
Standard

Berbekal sepatu yang didesain khusus untuk olah raga dan jalan jauh, beberapa baju berkualitas yang dapat memberikan kenyamanan sekaligus tetap chic, ternyata tidak menjamin kegembiraan lebih. Saya membicarakan travelling.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, saya dipenuhi oleh gelembung suka cita. Boleh dibilang euforia membucah dan menggelegak dalam dada. Dalam 5 hari yang singkat saya bisa pergi kemana-mana, berjalan kaki lebih jauh dari jumlah  kilometer dari jalan pagi di Indonesia dijumlahkan dalam lima tahun. Dari Tokyo sampai Hiroshima. Dari museum, chinatown, taman kota dan kuil. Semangat menggebu-gebu untuk menjajal berbagai makanan/minuman yang ‘aneh’ atau unik dan otentik khas Jepang. Mulai dari semangkuk Soba/ Udon/ Ramen, aneka tempura, aneka sushi, matcha dan wasabi dalam berbagai hidangan hingga aneka makanan yang dihangatkan microwave dari minimarket lokal.

Soba dingin dan tempura untuk musim panas

Soba dingin dan tempura untuk musim panas

Enak belum tentu, hanya mengobati rasa penasaran saja. Belum lagi vending machine fetish yang tiba-tiba menjangkiti saya disana. Setiap kali melihat kotak besi besar warna putih dengan jendela berisi botol-botol aneka warna, frekuensi napas saya meningkat. Hingga kini, saya terlatih untuk mengecek dalam waktu singkat isi setiap vending machine, adakah yang belum pernah saya coba? Berhubung saya tidak merokok dan tidak minum alkohol, maka pilihan minuman/makanan dari mesin tersebut ‘agak’ terbatas.

-only in Japan- fetish

-only in Japan- fetish

Timbulnya keberanian dan toleransi besar terhadap rasa aman juga tiba-tiba muncul di Jepang. Didukung suasana lingkungan yang sangat disiplin dan tertata, jelas menyuburkan rasa aman bahkan saat berjalan sendirian di malam hari. Bila di tanah air saya selalu memastikan tidak lagi berada di jalanan paling lambat saat magrib, di Jepang saya hampir menjadi makhluk malam. Pukul dua puluh saya masih terdampar di stasiun kecil di luar kota  Tokyo (saya lupa namanya) karena salah naik kereta, sementara saya harus pulang ke hotel di Tokyo. Walau nyaris ketinggalan kereta terakhir bahkan terancam harus naik taksi (baca: membuang uang), saya masih bisa mentertawakan diri sendiri. Bagi orang-orang terdekat, kondisi itu biasanya sudah membuat saya panik-marah-takut hingga menangis sesegukan di pojok ruangan. Namun travelling memberikan kesempatan bagi diri saya untuk man-up!, mandiri dan bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri. Travelling juga memaksa kepala saya untuk dapat berpikir cepat, cerdik dan cerkas. Memikirkan berbagai alternatif solusi terbaik sekaligus kemungkinan terburuk ketika dihadapkan pada suatu masalah.

Akhirnya, saya mencari kereta lokal lainnya (setelah berbahasa tarzan dengan petugas stasiun) untuk mencapai stasiun Shin Yokohama lalu naik Hikari Shinkansen ke stasiun Shibuya kemudian sambung lagi dengan Tokyo Metro subway. Semua terasa indah dan menyenangkan karena euforia tadi. Bahkan ketika saya meringis sakit melepas sepatu lalu merendam kaki dalam air hangat, detik berikutnya saya sudah terlelap dengan senyum lebar. Euforia merupakan pain killer dan anti anxietas/ anti depresan terbaik bagi saya. Bahkan masih meninggalkan jejak kegembiraan hingga sekarang.

Lalu apa yang terjadi? Mengapa saya menuliskan judul diatas?

Ketika saya mendapat kesempatan kedua untuk berkunjung ke Jepang, tepat 11 bulan setelah perjalanan pertama, saya senang sekali. Semua pengalaman dan street knowledge yang saya dapat, dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk persiapan diri lebih baik. Seperti di pembukaan tulisan ini, saya memfasilitasi diri saya untuk dapat menjelajahi Jepang lebih luas lagi. Sepatu merupakan salah satu modal utama harus lebih baik dari sebelumnya. Saya siapkan dana khusus untuk membeli sepatu olah raga yang tidak saja enak dipakai, mengurangi rasa pegal, mendukung kaki saya untuk tahan berjalan jauh juga terlihat cukup trendi. Mengingat banyak foto-foto sebelumnya memperlihatkan diri saya seperti anak laki-laki kecil dengan ransel, bukannya wanita dewasa. Saya kumpulkan pula baju-baju berbahan tipis menerawang dan menyerap keringat yang sporty sekaligus feminin.

Kali ini keterampilan fotografi saya juga sudah bertambah, berbekal kamera DSLR dengan banyak memory card cadangan. Hal-hal kecil seperti: tisu basah antiseptik, tisu basah penghapus make up, tint-sunscreen, lipstick dengan tabir surya, tas tangan yang dapat memuat kamera, payung, aplikasi kamus bahasa Jepang, peta lokasi dan peta jalur kereta api di ipad, hingga tempat minum lipat. Makanan selingan pengganjal perut pun saya siapkan dalam bentuk porsi sekali makan. Irisan bolu gulung dan lapis surabaya serta dodol garut dalam plastik klip kecil-kecil saya susun di Jakarta. Tujuan utamanya untuk mengurangi jajanan yang tidak perlu. Ya, kali ini saya membatasi diri dalam menikmati kuliner di Jepang hanya yang berkualitas saja. Saya bertekad tidak lagi tergoda dengan vending machine, family mart/ lawson/ seven eleven dan penjual makanan di stasiun.

Untuk menghindarkan kekesalan yang tidak perlu terkait dengan penerbangan murah, saya memesan kursi di deretan khusus (hot seat) plus tambahan comfot kit. Selain hal-hal berbau Jepang, ipad juga saya penuhi dengan ratusan ebook dan ibook sesuai minat saya, berbagai video kartun maupun film lawas favorit saya untuk memerangi kebosanan saat harus transit sekitar 3 jam di Kuala Lumpur. Saya bahkan memesan kamar hotel untuk 1 malam di dekat bandara, memfasilitasi istirahat optimal di malam pertama saya di Jepang.

Ya, perjalanan saya kali ini sedikit menjauh dari standar backpacker yang biasa saya terapkan. Semuanya bertujuan agar saya dapat menikmati Jepang semaksimal mungkin. Dilengkapi bahan riset ekstensif dari internet, saya sudah membuat itienary yang lengkap dan bervariasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan 8 hari 9 malam di Jepang.

Lalu apakah semua persiapan itu membuahkan pengalaman luar biasa yang melampaui sentuhan pertama dengan negeri Sakura?

Sayangnya tidak. Frasa “It’s all in the head!” memang tepat sekali.

Randevous kedua saya dengan dunia teraman dan ternyaman yang pernah saya temui ini, tidak menghasilkan adrenalin rush maupun luapan endorfin setinggi tahun lalu. Mungkin juga karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi, sisa pengaruh euforia sebelumnya.

Oh, tetapi jangan salah kawan. Saya sangat menikmati pengalaman kedua ini. Ketenangan, kenyamanan dan rasa aman yang saya harapkan dapat saya rasakan kembali di Jepang memang saya temukan. Namun sensasi itu sudah menjadi familiar bagi saya. It is expected, so there’s no surprise. It’s all taken for granted.

Pengaruh iklim dan suhu juga banyak mempengaruhi mood serta kapabilitas saya menjelajahi Jepang di kali kedua. Early summer di bulan Juni ternyata lebih tepat disebut sebagai cloudy, rainy and windy summer. Karena lebih banyak gerimis, mendung dan angin kencang daripada mataharinya. Berbeda cukup signifikan dibanding kondisi bulan Juli tahun lalu. Walau sudah mengantisipasi perbedaan iklim, tetapi saya tidak menyangka hal ini dapat mempengaruhi mood saya untuk menjelajah. Angin kencang dan gerimis menggerus kekebalan tubuh saya, membuat kembung dan sakit kepala. Ramalan cuaca, berita dan kenyataan bahwa saya tidak siap menghadapi taifun membuat mood menggelap.

Kabut di Kanayama, Nagoya

Kabut di Kanayama, Nagoya

Untung saja akomodasi, fasilitas dan transportasi kali ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Sehingga dengan cepat saya menguasai diri dan merubah itienary menjadi lebih fleksibel, tidak terpengaruh hujan badai. Saya pun berusaha membebaskan diri dari tekanan target yang saya pasang sendiri. Terus terang saja, dibalik euforia, tahun lalu saya cukup stress ketika pembagian waktu antar destinasi tidak sesuai dengan apa yang saya jadwalkan. Namun kali ini saya mencoba lebih santai, toh namanya liburan. Tidak perlu stress bukan? Tidak ada yang akan memarahi saya kalau dari tiga puluh destinasi yang saya jadwalkan, ternyata saya hanya bisa mencapai separuhnya? Saya hanya harus bisa merelakan dan memaafkan diri sendiri.

Setelah merelakan setengah hari untuk meriset ulang di hotel, saya mengubah tema perjalanan kali ini. Dari mencari adrenalin rush dan active experience, menjadi culture and art. Yah, kemampuan adaptasi dengan cepat juga dibutuhkan (atau terpaksa belajar) ketika travelling solo. Oh ya, mungkin diawal saya belum menjelaskan. Saya seorang solo traveller. Saya suka dan lebih suka jalan menjelajah sendiri. Walaupun akomodasi berbagi dengan rekan, namun saya sangat individual dalam membedah kota atau negara tujuan. Salah satu positifnya solo traveller, saya bisa dengan mudah membanting stir dalam menjadwalkan perjalanan tanpa perlu kompromi.

Jadi, setelah euforia menipis diperlukan kemampuan adaptasi yang baik dan kerelaan untuk mengubah rencana agar aktivitas travelling bisa tetap mengasyikkan. Inilah pelajaran terbesar dari perjalanan kali ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s