The tale from people of the street-breakfast

Image

Food street vendors are most common in Asia. They prepare their stall since the earliest morning to greet their commoners and provide warm hardy meal of the day.
Like any other honorable profession, these street vendors also have speciality. The breakfast-specific meal vendors usually rise at the dawn and finished the service just before lunch. Most of the vendors only sell one kind of dish or maybe a very short list of menu.
Oh, note that the street-breakfast goers usually a bit fanatic to their favorite stall. And the vendor let these exciting customer pick, prepare and modify their food freely based on the sense of familiarity.

Enjoy some of the pictures from around the world of street style breakfast.

Korean Pancake Breakfast by jgamboa
Korean Pancake Breakfast, a photo by jgamboa on Flickr.

Sarapan Bubur Ayam

Kolkata Breakfast

sarapan nasi jamblang yang terkenal itu

sarapan

Mie ayam in Java - Indonesia

Advertisements

Meals on Wheels

Standard

Ternyata istilah itu bukan berawal dari layanan pesan antar McDonald lho!
Pertama kali digunakan tahun 1943 oleh ikatan sukarelawan wanita dalam The Women’s Voluntary Service for Civil Defense di Inggris sebagai reaksi dari banyaknya orang yang sakit pasca pandemi influenza dan orang lanjut usia yang tidak bisa menyiapkan makanan sendiri. Sehingga sukarelawati di WVS memasak makanan atau membelinya dari restoran setempat kemudian diantarkan menggunakan mobil kecil ke rumah orang-orang yang membutuhkan.
Kini frasa meals on wheels digunakan untuk berbagai kegiatan mengantarkan makanan langsung ke rumah yang membutuhkan.
Sementara itu, pedagang makanan keliling sudah menjadi budaya Indonesia sejak jaman kolonial bahkan mungkin lebih awal. Bila kita perhatikan foto atau lukisan bertema kerakyatan jaman itu, atau membaca naskah kuno bahkan cerita rakyat, akan selalu ada penjual makanan (atau minuman) keliling. Tentu saja kala itu penjual masih menggunakan bakul dan pikulan, berjalan kaki menjajakan makanan keliling kampung.
Beverley M. Bowie menceritakan kondisi Jakarta di majalah National Geographic edisi September 1955, “…Cepat atau lambat, semua barang akan mendatangi pintu depan rumah. Pedagang keliling yang memikul barang jajaan yang terpasang di kedua ujung batang bambu tidak hanya membawa daging, tahu, ikan, telur, dan sayuran…” (menukil dari blog supermilan)

penjaja makanan keliling abad 19

Karena pedagang Indonesia cerdas, mereka membawa teknologi “roda/ wheels” pada penjualan keliling. Dengan tambahan roda, penjual dapat berjalan lebih jauh dan membawa makanan atau minuman lebih banyak. Maka bermunculan berbagai tipe dan variasi pedagang keliling beroda.
Gerobak persegi dengan dua roda tipis berdiameter besar adalah bentuk yang paling umum ditemukan. Tukang sayur, tukang bubur kacang hijau, tukang ketoprak dan tukang bakso adalah beberapa yang menggunakan dua roda tadi. Ada juga variasi penambahan roda kecil tebal dibagian yang berlawanan dengan posisi penjualnya saat mendorong gerobak memberikan keseimbangan lebih baik.

tukang sayur

Variasi berikutnya adalah bentuk evolusi dari gerobak dorong. Penambahan roda ketiga yang ukurannya sama dengan dua lainnya. Secara cerdas mengambil teknologi becak untuk menghemat tenaga dan memperluas area cakupan. Tukang roti Lauw dan sejenisnya merupakan salah satu pengguna tiga roda.

tukang roti

Sepeda dan sepeda motor pun digunakan untuk mendekatkan produk ke pelanggan.

Beberapa restoran seperti bakmi Golek menggunakan sepeda sebagai kendaraan untuk layanan pesan antar mereka yang jarak dekat.
Tambahan mesin bertenaga bahan bakar minyak telah merevolusi konsep pedagang keliling di Indonesia. Sepeda motor dan mobil mampu menempuh jarak puluhan kilometer. Sehingga lebih banyak lagi konsumen yang terbantu karena makanan-lah yang mencari manusia, bukan manusia yang mencari makanan.
Bersambung ke bagian 2