Boredom free Japan: @ Shibuya crossing

Image
Visit beloved Hachiko statue near Shibuya station

Visit beloved Hachiko statue near Shibuya station

Watching people watching

Watching people watching

Getting' ready for crossing!

Getting’ ready for crossing!

Stiletto versus Flats

Stiletto versus Flats

Beaming with happiness

Beaming with happiness

Goth loli moms

Goth loli moms

@ the corner of Shibuya crossing

@ the corner of Shibuya crossing

Shoes runway

Shoes runway

Always ready for POSE!

Always ready for POSE!

mother daughter in the world of pink

mother daughter in the world of pink

Mengiris dengan Shinkansen

Hei, that's me!
Standard

Lho, Shinkansen bukannya nama kereta cepat di Jepang?

Memang betul, tetapi bisa juga digunakan sebagai pisau. Bukan sembarang pisau untuk memotong sayur, tetapi mengiris Jepang secara cepat dan efisien.

Begini maksud saya, rute kereta api tersebut membentang dari utara ke selatan Jepang. Sebagian besar kota dan desa yang memiliki daya tarik wisata dilalui oleh rangkaian kereta tersebut. Sebagai pengguna JR Pass, haram bagi saya bila tidak mengeksploitasinya secara habis-habisan. Disamping itu, saya terkatung-katung tidak punya tempat untuk melepas lelah hingga jam sembilan malam. Dengan bawaan 1 ransel besar dan 1 kopor kecil plus tas kamera, rasanya merepotkan sekali untuk saya bawa menjelajah kota. Memasukkan ke loker koin yang ada dihampir setiap stasiun besar tidak tega, berhubung saya membawa 1 Macbook Pro, 1 Ipad dan 1 kamera DSLR. Walau keamanan di sana jauh lebih baik dari negeri sendiri, tetap saja rasa tidak tenang akan menghantui saya. Kemudian ada aspek cuaca yang sangat moody di awal musim panas ini. Terkadang cerah sekali, tiba-tiba mendung berangin lalu hujan lebat. Padahal semua gadget saya tidak anti air.

Kota-kota yang dilalui Shinkansen

Kota-kota yang dilalui Shinkansen

Atas pertimbangan semua hal tadi maka saya dedikasikan hari kedua di Jepang untuk melakukan irisan memanjang, mengobservasi budaya dan cara hidup masyarakatnya dari kota megapolitan hingga ke desa terpencil dibalik bukit. Disinilah gunanya Shinkansen sebagai pisau. Saya hanya perlu duduk manis di dekat jendela, biarkan Hikari yang melaju dari Tokyo hingga Kagoshima-Chuo (ke arah selatan) dan dari Tokyo ke Shin Aomori (ke arah utara).

Disinilah kenikmatan sejati kepemilikan JR Pass yang saya beli di Jakarta seharga 28.000 yen (sayangnya tahun ini agen penjualnya hanya menerima uang rupiah sesuai kurs maskapai, yang dalam hal ini lebih mahal Rp. 8-10,- dengan kurs normal). Saya hitung-hitung, sekali perjalanan Tokyo-Osaka saja tiket regularnya seharga 14 ribuan yen, jadi hanya dengan pergi bolak-balik saja nilai JR pass sudah terlampaui. Maka perjalanan saya lainnya menggunakan JR Pass bisa dianggap gratis.

Dengan mantap saya membeli satu paket bento untuk dimakan dalam Hikari, lalu melangkah cepat ke peron menuju cetakan garis antrian untuk masuk ke gerbong 2. Karena gerbong 1-5 dialokasikan untuk yang unreserved, artinya kita bebas pilih kursi. Untung saja masih ada waktu sekitar dua puluh menitan hingga Hikari berikutnya datang. Sehingga saya bisa menempati baris antrian terdepan. Tujuannya supaya saya lebih leluasa memilih tempat duduk. Jangan khawatir, walau saya repot dengan bawaan sehingga akan melambatkan proses naik ke kereta, tidak akan disela oleh orang Jepang. Mereka sangat menghargai budaya mengantri.

Antri di dalam garis biru

Antri di dalam garis biru

Selama menunggu, sudah dua kali Nozomi lewat dengan cepat dan anggun. Inilah sedikit kekurangan JR Pass, tidak bisa digunakan untuk kereta tercepatnya. Tetapi saya tidak mengeluh, toh saat ini sedang liburan dan justru saya ingin menikmati prosesnya. Kaki dan pundak mulai kebas, untung saja terdengar pengumuman dalam bahasa Jepang. Saya tidak tahu apa artinya, namun telinga menangkap kata-kata ‘Hikari’, dan papan pengumuman jadwal kereta berikutnya menunjukkan warna merah (warnanya Hikari, Nozomi kuning dan Kodama hijau) yang berkedip-kedip, tahulah saya keretaku akan segera tiba. Setahun yang lalu adalah terakhir kalinya menikmati Shinkansen, sehingga terbangun sedikit antisipasi dan kegembiraan ketika melihat moncong Hikari disudut tikungan. Yess! I’m back.

Dibelakang saya sudah ada sekitar tujuh orang yang mengantri dengan sabar dan santun. Walau ingin segera masuk, namun jangan sekali-kali berperilaku grasa-grusu bila berhubungan dengan kereta api Jepang. Risiko ditanggung sendiri. Risiko malu karena pasti akan ditegur petugas stasiun dan risiko terluka disambar badan kereta. Dengan tenang namun tangan kanan siap mengangkat kopor, aku menunggu sampai pintu yang sesuai berhenti tepat didepan jalurku mengantri dan terbuka. Karena Tokyo adalah stasiun pertama untuk rute ini, tidak ada penumpang keluar yang harus diberi jalan. Saya segera masuk, dan mencari kursi yang pas. Kursi ideal untukku bukan masalah di sisi kanan atau kiri kereta, toh akhirnya pemandangan di kedua sisi dapat dinikmati saat perjalanan pulang. Yang penting bagi saya adalah, two seat atau three seat. Sebisa mungkin saya mencari two seat yang masih kosong. Bokong saya langsung mengklaim kursi empuk yang menempel ke jendela besar. Untuk sementara, saya bisa meletakkan sebagian barang di kursi satunya. Inilah pentingnya two seat. Saya berharap Hikari tidak terlalu penuh, sehingga saya bisa ‘menguasai’ kedua kursi. Ya kita lihat saja nanti.

Tidak sampai sepuluh menit, Hikari sudah berjalan ke arah selatan. Pengumuman dalam bahasa Jepang masih terus diulang-ulang, sesekali diiringi bahasa Inggris mengenai kewaspadaan terhadap ancaman teroris. Oh iya, walau tidak selalu, terkadang kondektur kereta mengecek karcis penumpang satu persatu. Saya siapkan tiket JR Pass di saku terdepan agar mudah dicari saat dibutuhkan. Saya nikmati pertunjukan alam dari kaca jendela, sambil sesekali memotret sebisanya. Belum setengah jam beranjak dari stasiun Shinagawa saya mengendus bau lezat dari arah depan. Sepertinya bento pertama di gerbong saya sudah dibuka, memberi sinyal pada perut saya untuk mulai keroncongan. Tak sabar saya pun membuka bento seharga 1000 yen pas itu. Agak mahal memang, karena saya pilih paket berisi unagi (belut bakar) dan bebas buta (pork). Menikmati bento ditemani pemandangan indah diatas kursi empuk dan ruangan sejuk belum lengkap tanpa sambal sachet dari Indonesia. Lidah jawa-melayu ini memang susah berpisah terlalu lama dengan pedas. Sambal sachet sama pentingnya dengan paspor bagi saya ketika travelling keluar negeri.

bento untuk makan siang

bento untuk makan siang

Setelah makanan tandas, saya bisa kembali berkonsentrasi dengan pemandangan. Saat ini sudah meninggalkan stasiun Nagoya. Keberagaman dan perbedaan pemandangan semakin terlihat. Tidak hanya landscape pemandangannya yang berubah, dari hutan beton, lalu pemukiman padat hingga pegunungan-sawah-kebun-sungai. Tetapi, yang paling menarik bagi saya adalah mengamati detil-detilnya.

Menukil Jepang dari jendela1

Menukil Jepang dari jendela1

Menukil Jepang dari jendela2

Menukil Jepang dari jendela2

Perbedaan bentuk dan warna perumahan. Keseragaman warna mobil dari kota sampai desa, sebagian besar putih. Pada lahan parkir raksasa yang cukup lowong, tetap saja orang Jepang parkir di tempatnya masing-masing. Walau spot parkir terdekat dengan pintu gedung kosong melompong, bila bukan miliknya, tidak ada yang berani menempatinya. Keragaman juga terlihat dari dinamika stasiun-stasiun kereta api dan karakter calon penumpang yang berpose di sepanjang peron. Satu hal mencolok adalah, semakin kereta menjauhi pusat-pusat kota maka dominasi pelancongnya bergeser ke usia lanjut. Dari opa berambut putih yang masih gagah dengan jas dan dasi, oma yang mengenakan rok selutut serta stoking hitam. Suami istri lansia yang tampak mesra minum teh dari botol yang sama, hingga oma berpunggung melengkung yang melancong sendirian terbungkuk-bungkuk ditopang tongkat kayu.

Lama-lama, panas juga rasa bokong ini duduk tiga jam lebih. Untung sudah mendekati Shin Osaka, saya merencanakan untuk turun. Kota Osaka yang laid back dan tempat kelahiran aneka hidangan lezat sudah saya kunjungi tahun lalu, namun rasanya kangen juga. Paling tidak saya ingin melihat pemandangan kotanya saja, atau bahkan menyerap ambiance dari stasiun besar itu saja.

Oh ya ampun, saya lupa dengan dua buah beban berat yang harus digotong kemana-mana. Akhirnya saya cukupkan dengan melihat-lihat di dalam stasiun Shin Osaka saja. Gaya berpakaian yang jauh berbeda dari komuter di stasiun Tokyo atau Shibuya. Saya bahkan menemukan dua band lokal yang perform di dua lokasi yang berbeda. Yang satu dengan gaya kasual kaus dan jeans, lainnya menggunakan Yukata motif lucu-lucu.

Irisan keindahan Jepang1

Irisan keindahan Jepang1

Irisan keindahan Jepang2

Irisan keindahan Jepang2

Begitulah cara saya mengiris Jepang seharian dengan Shinkansen. Waktu 1 hari hanya cukup untuk menjelajah hingga ujung selatan saja. Di beberapa stasiun yang menarik, saya turun melancong dan people watching saja. Lalu menunggu Hikari, Sakura atau Kodama berikutnya. Hanya berbekal selembar kartu saya bisa melihat wajah lain Jepang. Kota-kota lumbung padi, terlihat dari persawahan dan perluasan rumah kaca yang ekstensif. Kota-kota khusus pemukiman bagi tenaga kerja aneka pabrik di kota sebelahnya. Kota yang ditunjuk menjadi junkyard dipenuhi rangkaian besi tua sisa industri. Kota yang mempreservasi arsitektur kuno terlihat antik dan cantik dengan rumah-rumah tuanya.

Pukul 16.oo saya sampai di Hakata. Masih bisa sambung Kyushu Shinkansen sampai stasiun terujung di  Kagoshima-Chuo. Sayangnya sudah terlalu sore dan langit menggelap dengan cepat. Daripada terjebak badai di kota kecil, saya ingin segera sampai di Nagoya (tempat akomodasi saya selama 3 hari kedepan). Ternyata kereta paling awal yang dapat saya naiki ke arah Shin Osaka hanya ada Sakura dan Kodama. Saya sudah bersiap masuk ke Kodama dan bersiap menghadapi perjalanan yang lambat. Untung saja saya sempat melirik papan pengumuman, bahwa masih ada Sakura setelah ini. Langsung saya keluar dari antrian dan menunggu kereta berikutnya. Sampai di Shin Osaka, bergegas mengejar Hikari yang berangkat sebelum pukul 20.00 supaya bisa sampai ke Nagoya tidak lebih dari pukul 21.30.

Puas sudah seharian penuh membaca kilat keberagaman masyarakat Jepang dari jendela Shinkansen. Rencana saya berikutnya adalah menandai kota-kota yang menarik tadi untuk dimasukan dalam revisi itienary dan dijelajahi lebih dalam. Yang harus diingat, hati-hati dengan jadwal Hikari, Sakura, Kodama atau Tsubame yang lebih jarang ketersediaannya di pelosok Jepang. Contohnya, tidak ada jadwal Hikari di Hakata saat siang hingga menjelang sore. Memang digantikan fungsinya oleh Sakura, dan JR Pass masih bisa digunakan. Tetapi hal-hal kecil seperti ini penting diwaspadai supaya tidak panik. Catatan lain lagi adalah, sebisa mungkin manfaatkan toilet stasiun. Walau toilet dalam kereta bersih, buat saya tetap kurang nyaman.

Kalau ingin hemat, jangan membeli makan dan minuman diatas kereta. Bedanya bisa 200-300 Yen dengan warung di dalam stasiun. Untuk bento, toko yang berada di peron umumnya menjual sedikit lebih mahal dari yang dibagian dalam stasiun. Memang tidak banyak, sekitar 50-150 Yen. Untuk minuman, bila merasa kurang nyaman dengan air keran bisa beli di vending machine. Best deal minuman di vending machine untuk saya adalah Pocari Sweat botol besar seharga 120 Yen atau aneka jus buah produk Kirin dengan harga yang sama. Volumenya relatif lebih banyak dari yang lainnya, dan tidak bersifat diuretik seperti teh. Hati-hati dengan vending machine yang serba 100 Yen. Harga dimurahkan karena produknya sudah menjelang expired date.

Supaya tidak bosan, saat waktu tunggu diatas 20 menit saya lebih suka menikmati semangkuk soba atau udon di stasiun dari pada membeli bento. Harga relatif lebih murah, umumnya antara 300-600 yen tergantung lokasi stasiunnya, sudah mengenyangkan dan menghangatkan perut. Biasanya warung-warung di stasiun ini tidak menyediakan kursi. Jadi kita makan sambil berdiri. Justru yang seperti ini memberikan pengalaman tersendiri dan lebih murah daripada restoran yang menyediakan kursi.

Oh ya hampir lupa, pembuatan jalur kereta api lintas Jepang seperti Shinkansen banyak mengorbankan bukit dan pegunungan. Untuk mempersingkat jarak tempuh, dibuatkan rel kereta api dengan melubangi gunung. Sehingga semakin ke selatan akan makin banyak terowongan gelap yang dilalui. Jadi siap-siap menemukan hitam dan gelap pekat diluar jendela.

Pasca Euforia

Kabut di Kanayama, Nagoya
Standard

Berbekal sepatu yang didesain khusus untuk olah raga dan jalan jauh, beberapa baju berkualitas yang dapat memberikan kenyamanan sekaligus tetap chic, ternyata tidak menjamin kegembiraan lebih. Saya membicarakan travelling.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, saya dipenuhi oleh gelembung suka cita. Boleh dibilang euforia membucah dan menggelegak dalam dada. Dalam 5 hari yang singkat saya bisa pergi kemana-mana, berjalan kaki lebih jauh dari jumlah  kilometer dari jalan pagi di Indonesia dijumlahkan dalam lima tahun. Dari Tokyo sampai Hiroshima. Dari museum, chinatown, taman kota dan kuil. Semangat menggebu-gebu untuk menjajal berbagai makanan/minuman yang ‘aneh’ atau unik dan otentik khas Jepang. Mulai dari semangkuk Soba/ Udon/ Ramen, aneka tempura, aneka sushi, matcha dan wasabi dalam berbagai hidangan hingga aneka makanan yang dihangatkan microwave dari minimarket lokal.

Soba dingin dan tempura untuk musim panas

Soba dingin dan tempura untuk musim panas

Enak belum tentu, hanya mengobati rasa penasaran saja. Belum lagi vending machine fetish yang tiba-tiba menjangkiti saya disana. Setiap kali melihat kotak besi besar warna putih dengan jendela berisi botol-botol aneka warna, frekuensi napas saya meningkat. Hingga kini, saya terlatih untuk mengecek dalam waktu singkat isi setiap vending machine, adakah yang belum pernah saya coba? Berhubung saya tidak merokok dan tidak minum alkohol, maka pilihan minuman/makanan dari mesin tersebut ‘agak’ terbatas.

-only in Japan- fetish

-only in Japan- fetish

Timbulnya keberanian dan toleransi besar terhadap rasa aman juga tiba-tiba muncul di Jepang. Didukung suasana lingkungan yang sangat disiplin dan tertata, jelas menyuburkan rasa aman bahkan saat berjalan sendirian di malam hari. Bila di tanah air saya selalu memastikan tidak lagi berada di jalanan paling lambat saat magrib, di Jepang saya hampir menjadi makhluk malam. Pukul dua puluh saya masih terdampar di stasiun kecil di luar kota  Tokyo (saya lupa namanya) karena salah naik kereta, sementara saya harus pulang ke hotel di Tokyo. Walau nyaris ketinggalan kereta terakhir bahkan terancam harus naik taksi (baca: membuang uang), saya masih bisa mentertawakan diri sendiri. Bagi orang-orang terdekat, kondisi itu biasanya sudah membuat saya panik-marah-takut hingga menangis sesegukan di pojok ruangan. Namun travelling memberikan kesempatan bagi diri saya untuk man-up!, mandiri dan bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri. Travelling juga memaksa kepala saya untuk dapat berpikir cepat, cerdik dan cerkas. Memikirkan berbagai alternatif solusi terbaik sekaligus kemungkinan terburuk ketika dihadapkan pada suatu masalah.

Akhirnya, saya mencari kereta lokal lainnya (setelah berbahasa tarzan dengan petugas stasiun) untuk mencapai stasiun Shin Yokohama lalu naik Hikari Shinkansen ke stasiun Shibuya kemudian sambung lagi dengan Tokyo Metro subway. Semua terasa indah dan menyenangkan karena euforia tadi. Bahkan ketika saya meringis sakit melepas sepatu lalu merendam kaki dalam air hangat, detik berikutnya saya sudah terlelap dengan senyum lebar. Euforia merupakan pain killer dan anti anxietas/ anti depresan terbaik bagi saya. Bahkan masih meninggalkan jejak kegembiraan hingga sekarang.

Lalu apa yang terjadi? Mengapa saya menuliskan judul diatas?

Ketika saya mendapat kesempatan kedua untuk berkunjung ke Jepang, tepat 11 bulan setelah perjalanan pertama, saya senang sekali. Semua pengalaman dan street knowledge yang saya dapat, dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk persiapan diri lebih baik. Seperti di pembukaan tulisan ini, saya memfasilitasi diri saya untuk dapat menjelajahi Jepang lebih luas lagi. Sepatu merupakan salah satu modal utama harus lebih baik dari sebelumnya. Saya siapkan dana khusus untuk membeli sepatu olah raga yang tidak saja enak dipakai, mengurangi rasa pegal, mendukung kaki saya untuk tahan berjalan jauh juga terlihat cukup trendi. Mengingat banyak foto-foto sebelumnya memperlihatkan diri saya seperti anak laki-laki kecil dengan ransel, bukannya wanita dewasa. Saya kumpulkan pula baju-baju berbahan tipis menerawang dan menyerap keringat yang sporty sekaligus feminin.

Kali ini keterampilan fotografi saya juga sudah bertambah, berbekal kamera DSLR dengan banyak memory card cadangan. Hal-hal kecil seperti: tisu basah antiseptik, tisu basah penghapus make up, tint-sunscreen, lipstick dengan tabir surya, tas tangan yang dapat memuat kamera, payung, aplikasi kamus bahasa Jepang, peta lokasi dan peta jalur kereta api di ipad, hingga tempat minum lipat. Makanan selingan pengganjal perut pun saya siapkan dalam bentuk porsi sekali makan. Irisan bolu gulung dan lapis surabaya serta dodol garut dalam plastik klip kecil-kecil saya susun di Jakarta. Tujuan utamanya untuk mengurangi jajanan yang tidak perlu. Ya, kali ini saya membatasi diri dalam menikmati kuliner di Jepang hanya yang berkualitas saja. Saya bertekad tidak lagi tergoda dengan vending machine, family mart/ lawson/ seven eleven dan penjual makanan di stasiun.

Untuk menghindarkan kekesalan yang tidak perlu terkait dengan penerbangan murah, saya memesan kursi di deretan khusus (hot seat) plus tambahan comfot kit. Selain hal-hal berbau Jepang, ipad juga saya penuhi dengan ratusan ebook dan ibook sesuai minat saya, berbagai video kartun maupun film lawas favorit saya untuk memerangi kebosanan saat harus transit sekitar 3 jam di Kuala Lumpur. Saya bahkan memesan kamar hotel untuk 1 malam di dekat bandara, memfasilitasi istirahat optimal di malam pertama saya di Jepang.

Ya, perjalanan saya kali ini sedikit menjauh dari standar backpacker yang biasa saya terapkan. Semuanya bertujuan agar saya dapat menikmati Jepang semaksimal mungkin. Dilengkapi bahan riset ekstensif dari internet, saya sudah membuat itienary yang lengkap dan bervariasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan 8 hari 9 malam di Jepang.

Lalu apakah semua persiapan itu membuahkan pengalaman luar biasa yang melampaui sentuhan pertama dengan negeri Sakura?

Sayangnya tidak. Frasa “It’s all in the head!” memang tepat sekali.

Randevous kedua saya dengan dunia teraman dan ternyaman yang pernah saya temui ini, tidak menghasilkan adrenalin rush maupun luapan endorfin setinggi tahun lalu. Mungkin juga karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi, sisa pengaruh euforia sebelumnya.

Oh, tetapi jangan salah kawan. Saya sangat menikmati pengalaman kedua ini. Ketenangan, kenyamanan dan rasa aman yang saya harapkan dapat saya rasakan kembali di Jepang memang saya temukan. Namun sensasi itu sudah menjadi familiar bagi saya. It is expected, so there’s no surprise. It’s all taken for granted.

Pengaruh iklim dan suhu juga banyak mempengaruhi mood serta kapabilitas saya menjelajahi Jepang di kali kedua. Early summer di bulan Juni ternyata lebih tepat disebut sebagai cloudy, rainy and windy summer. Karena lebih banyak gerimis, mendung dan angin kencang daripada mataharinya. Berbeda cukup signifikan dibanding kondisi bulan Juli tahun lalu. Walau sudah mengantisipasi perbedaan iklim, tetapi saya tidak menyangka hal ini dapat mempengaruhi mood saya untuk menjelajah. Angin kencang dan gerimis menggerus kekebalan tubuh saya, membuat kembung dan sakit kepala. Ramalan cuaca, berita dan kenyataan bahwa saya tidak siap menghadapi taifun membuat mood menggelap.

Kabut di Kanayama, Nagoya

Kabut di Kanayama, Nagoya

Untung saja akomodasi, fasilitas dan transportasi kali ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Sehingga dengan cepat saya menguasai diri dan merubah itienary menjadi lebih fleksibel, tidak terpengaruh hujan badai. Saya pun berusaha membebaskan diri dari tekanan target yang saya pasang sendiri. Terus terang saja, dibalik euforia, tahun lalu saya cukup stress ketika pembagian waktu antar destinasi tidak sesuai dengan apa yang saya jadwalkan. Namun kali ini saya mencoba lebih santai, toh namanya liburan. Tidak perlu stress bukan? Tidak ada yang akan memarahi saya kalau dari tiga puluh destinasi yang saya jadwalkan, ternyata saya hanya bisa mencapai separuhnya? Saya hanya harus bisa merelakan dan memaafkan diri sendiri.

Setelah merelakan setengah hari untuk meriset ulang di hotel, saya mengubah tema perjalanan kali ini. Dari mencari adrenalin rush dan active experience, menjadi culture and art. Yah, kemampuan adaptasi dengan cepat juga dibutuhkan (atau terpaksa belajar) ketika travelling solo. Oh ya, mungkin diawal saya belum menjelaskan. Saya seorang solo traveller. Saya suka dan lebih suka jalan menjelajah sendiri. Walaupun akomodasi berbagi dengan rekan, namun saya sangat individual dalam membedah kota atau negara tujuan. Salah satu positifnya solo traveller, saya bisa dengan mudah membanting stir dalam menjadwalkan perjalanan tanpa perlu kompromi.

Jadi, setelah euforia menipis diperlukan kemampuan adaptasi yang baik dan kerelaan untuk mengubah rencana agar aktivitas travelling bisa tetap mengasyikkan. Inilah pelajaran terbesar dari perjalanan kali ini.

Semalam di kota mu

Image

Baru saja saya terbangun dari tidur singkat namun cukup menyegarkan. Ketika melihat langit-langit yang berbeda dengan biasanya saya langsung tersadar, untung tidak jadi menginap di bandara. Ya, saat ini saya sedang berada di Haneda, Jepang. Sebuah kota di pinggir Tokyo yang menjadi pengampu bagi bandara Internasional (yang baru dipugar) Haneda, Tokyo, Jepang. Karena pesawat Internasional yang tiba disini sebagian besar malam hari, rencana awal saya adalah menginap di bandara sampai kereta pertama ke stasiun Tokyo sudah beroperasi. Pikir punya pikir, meneliti masukan dan pengalaman kawan-kawan di milis Indobackpacker, saya memutuskan untuk mencari hotel terdekat saja. Terutama karena sudah tambah usia, tubuh tidak terlalu fit lagi dan saya ingin hari kedua di Jepang bisa dimanfaatkan maksimal. Belum lagi saya membawa semua gadget elektronik yang penting; laptop, ipad dan kamera dslr, berbeda dengan gaya ‘lenggang kangkung’ saya yang biasanya. Jadilah saya memutuskan untuk mencari hotel di dekat bandara.

Setelah mempertimbangkan berbagai tawaran dan tarif hotel online, saya memutuskan untuk booking 1 kamar single di Tokoyoko Inn. Dengan harga 6890 yen, inilah tawaran termurah yang bisa saya peroleh saat itu. Ya memang masih cukup mahal bila dikonversi ke rupiah. Namun mempertimbangkan bahwa saya perlu kamar mandi sendiri, bebas mengisi baterai seluruh perangkat elektronik, bebas mengaur ulang barang bawaan saya dan mendapatkan privasi untuk membuka paket makanan yang saya bawa dari Indonesia tanpa sungkan. Bila saya pergi dengan bawaan lebih ringan dan kasual, tentu saya lebih memilih penginapan tipe dorm atau kapsul hotel yang khusus wanita. Oh ya, satu lagi yang saya pertimbangkan adalah, dengan menginap di hotel yang sedekat mungkin dari bandara memudahkan transportasi saya di tengah malam saat baru turun dari pesawat. Tidak perlu mencari-cari kereta, keluar masuk stasiun, lalu mencari-cari alamat hotel. Di petunjuk transportasi pada situs hotel tersebut menyebutkan adanya shuttle bus gratis dari bandara Haneda ke hotel setiap sekian menit sekali. Okelah, saya mantap melakukan reservasi.

Saat turun dari pesawat, langsung saja saya didera hujan rintik-rintik dan angin kencang. Dalam hati saya berkata, ya Tuhan saya salah kalkulasi cuaca. Bawaan saya baju musim panas yang tipis dan melayang, sementara sentuhan pertama dengan udara malam Jepang membuat gigi gemeletuk dan perut kembung. Tetapi menit berikutnya saya sudah tersenyum melihat bangunan bandara yang familiar, dengan suara berlagu khas milik wanita-wanita Jepang yang menenangkan. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini terjadi antrian cukup panjang di loket imigrasi. Mungkin karena masih berada di akhir low season, sehingga cukup banyak turis yang memanfaatkan tiket murah. Setelah lewat imigrasi, lagi-lagi berbeda dengan tahun lalu, saya menunggu bagasi dengan resah. Bukan resah karena cemas akan keselamatan bagasi saya, tetapi cemas saya akan tiba di hotel terlambat dari perkiraan waktu check-in yang saya cantumkan di formulir reservasi online. Bukan apa-apa, saya hanya tidak ingin didenda uang seharga menginap 1 malam.

Akhirnya bagasi saya terlihat dipelupuk mata, langsung saya sambar dan bergegas kebagian custom. Disana saya memlih petugas yang ‘bapak-bapak’, karena mereka cenderung lebih ramah pada pengunjung perempuan. Berhasil lolos dengan cepat membuat saya makin bersemangat mendorong troli menuju bagian informasi untuk menanyakan halte shuttle bus tadi. Mba-mba di bagian informasi langsung membuka-buka map dengan cepat, setelah saya menanyakan tempat menunggu bus. Saya semakin tidak sabar melihat ia masih mencari-cari sesuatu dengan membolak-balik lembaran berlapis plastik tersebut berulang kali. Hampir saja saya menyela dan meminta ia menunjukkan saja dengan tangan kearah mana saya harus jalan, nanti akan saya cari sendiri. Saya pikir ia mencari peta gambar denah menuju ke halte bus tadi, rupanya bukan. Ia mencari jadwal kedatangan bus yang khusus dari dan ke Tokoyoko Inn, lalu mencocokkan dengan waktu saat itu dan menjelaskan bahwa saya sudah ketinggalan bus yang pukul 23.02 tapi bisa menunggu untuk yang 23.12 di platform ‘Group Bus‘. Kembali saja saya tersenyum lebar. Khas sekali gaya memberikan informasi yang lengkap dan tailore-made detik per detik-nya, karakter orang Jepang. Saya mengucapkan terima kasih lalu bergegas mencari tanda-tanda ‘Group Bus’. Walau terus terang saja, waktu itu saya tidak yakin ia menyebutkan kata ‘Group’. Yang terdengar di telinga saya adalah ‘golup’ atau ‘bolup’ atau ‘blou’. Insting saya condong mengartikannya sebagai ‘Group’, dan ternyata saya menemukan petunjuk arah bertuliskan ‘Group Bus’. Menghembuskan nafas separuh lega, saya menggotong kopor ke eskalator menuju parkiran bus 1 lantai ke bawah.

Yang mengherankan, sama sekali tidak ada petugas berjaga-jaga di ruang parkir tersebut. Sehingga saya tidak bisa bertanya, apakah ini tempat yang benar atau bukan. Saya bertanya pada sesama penunggu bus yang sedang celingak-celinguk, turis-turis bule dan wajah asia yang ada, mereka hanya mengangkat bahu. Sama-sama bingung. Tidak sabar dan cemas akan tertinggal bus 23.12, saya mengetuk pintu salah satu bus yang sedang parkir dan menanyakan pada supir yang tidak berbahasa Inggris tersebut. Saya cukup menyebutkan “Tokoyoko Inn” , beliau dengan semangat langsung menunjukkan slot parkir kosong disebelahnya. Oke, setidaknya saya sudah berada di tempat yang tepat. Saya pun menunggu di lapangan parkir yang berangin kencang itu. Kecemasan saya meningkat saat saya melihat ada bus berlogo “JAL city…..” menempati slot parkir tadi, namun supirnya menggelengkan kepala saat saya menyebutkan Tokoyoko Inn.

Waduh jangan-jangan salah, bathin saya. Sementara waktu sudah menunjukkan 23.09. Saya pun mondar-mandir dari ujung ke ujung lapangan parkir tersebut menanyakan pada supir-supir bus yang ada. Dalam hati saya berdoa dengan kencang. Tepat pukul 23.11, saya melihat ada bus putih parkir melintang di slot yang ditunjukkan supir pertama tadi. Pengemudinya turun dan menyerukan “Tok-yoko Ing! Tok-yoko Ing!” , hati saya langsung menyerukan syukur. Saat saya mendekat, ternyata di badan bus tadi tertulis besar-besar “Tokoyoko Inn“. Oh jadi setiap hotel memiliki armada shuttle bus sendiri-sendiri, bukan seperti shuttle bus Transjakarta yang satu untuk semua, seperti perkiraan saya.

Bus tadi berjalan sekitar sepuluh menit-an memasuki kota Haneda, lalu tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Saya lihat ke kiri ada semacam front office mungil yang dipenuhi orang mengantri. Wah, ternyata kecil sekali penginapan ini, pikir saya. Selesai mengurus check in, yang ternyata kalau kita sudah booking online langsung dialokasikan kamar untuk setiap form reservasi, saya langsung naik ke lantai tujuh. Begitu masuk ke kamar, segera saya mensyukuri keputusan mengeluarkan uang 7000 yen. Walau mungil, namun kamar ini bersih sekali dan tersedia segala keperluan dasar yang saya perlukan termasuk akses internet plus kabel LAN-nya.

petit, fit for retreat

petit, fit for retreat

Hingga pagi tadi saat saya membuka mata, lalu membuka tirai jendela dan melihat bagaimana pukul setengah lima pagi kota Haneda sudah terang benderang. Saya kembali mensyukuri keputusan menginap di hotel dekat bandara.

Haneda 05.00 pagi

Haneda 05.00 pagi

Kini setelah beristirahat dengan semestinya lalu mandi, tubuh terasa segar dan siap berpetualang. Layaknya seorang backpacker sejati yang pantang menyia-nyiakan fasilitas sarapan, saya mengisi perut dengan sarapan gaya Jepang yang sederhana.

Sarapan sederhana di Tokoyoko Inn

Sarapan sederhana di Tokoyoko Inn

Tujuan berikutnya adalah, menukar JR exchange pass dengan JR pass dulu di stasiun terdekat.

Catatan tambahan:

Kali berikutnya saya ke Jepang, dengan bawaan minimal, ingin juga mencoba fasilitas Nap rooms and Shower rooms yang baru dari bandara Haneda. Bedanya lumayan dengan tarif hotel, walau privasi jelas minimal. Tarif hotel terdekat yang tidak perlu naik turun kereta rata-rata 6000-8000 yen semalam. Menginap di bandara Haneda cukup 1000 yen untuk kursi-tidur dan 800 yen untuk mandi (lengkap dengan toiletteries). Selain masalah privasi, terbatasnya jumlah kursi ini juga harus jadi pertimbangan. Satu lagi, bila tidak yakin dengan keamanan barang saat kita tertidur bisa menggunakan loker koin dengan harga bervariasi 300-800 yen. Informasi ini baru kemarin saya sadari ada di situsnya bandara Haneda. Itulah kalau terburu-buru, rasanya sudah riset lengkap, masih saja ada yang terlewat. Bisa dilihat selengkapnya disini.