Manisnya Hazelnut Latte

Standard

secangkir kebaikan

Malam minggu yang cukup kelabu ini, saya tiba-tiba mendapatkan hadiah yang nikmat, hangat dan manis bagai secangkir Hazelnut Latte dihadapan saya saat ini.

Benar juga ucapan salah satu filsuf yang saya lupa namanya; senyumlah, satu senyumanmu dapat menyelamatkan nyawa seseorang.
Hari ini saya mendapat hadiah yang memberikan secercah sinar matahari di kelabunya suasana hati. Bukan berupa barang yang mahal atau intan berlian.
Murni kebaikan hati dan keinginan untuk membantu sesama manusia. Tindakan sederhana dari seorang petugas kebersihan pada tanggal 29 Oktober 2011 pukul 18.06. Begitu sederhananya apa yang ia berikan namun mampu membuat saya tersenyum lebar setelah seharian merasa stress.

Bantuan berupa membantu supaya saya dapat mencharge ipad karena saya lupa membawa sambungan antara kepala charger dengan stop kontak di Starbucks Cafe Thamrin ini.
Ketika saya mengutarakan kesulitan saya karena baterai ipad ini sudah hampir habis, ia segera berbalik ke ruang belakang dan tidak keluar selama beberapa menit. Saya berpikir, ya sudah ia memang tidak bisa bantu dan sedang banyak pekerjaan

Tiba-tiba saat menikmati tegukan pertama dari kopi saya, ia datang membawa gulungan kabel yang memiliki bagian yang sesuai dengan bentuk kepala charger ipad saya.
Senyum lebar yang tulus pertama hari ini dari saya langsung mekar. Saya tidak menanyakan namanya, saya terus terang malu sendiri. Hanya saja, saya sangat menghargai tindakannya yang begitu sederhana namun menghangatkan hati saya yang dingin.

Disinilah saya kembali tersentak, ada dua hal utama yang saya sadari;

Pertama, Starbucks cabang Indonesia rupanya juga mengadopsi dengan serius budaya Starbucks dari Amerika yang ingin menjadikan dirinya tempat ketiga setelah rumah dan kantor. Sehingga seluruh pegawainya berusaha untuk menciptakan pengalaman Starbucks yang otentik.
Tadinya saya cukup pesimis dengan Starbucks cabang Indonesia. Karena seringkali orang Indonesia kalau mengadopsi sesuatu sifatnya setengah-setengah.
Tetapi pengalaman hari ini mengubah total pandangan saya mengenai Starbucks Indonesia. Bukan dari para baristanya, bukan dari menunya, namun dari keindahan hati seorang petugas kebersihan.

Kedua, saya jadi merenung dan kembali merasa malu sendiri.
Berapa banyak waktu dalam hidup saya yang melibatkan wajah cemberut dan mimik wajah murka? Berapa kali saya memberikan muka kecut atau pandangan dingin pada orang lain? Berapa kali saya menjauh atau menggelengkan kepala saat orang lain membutuhkan bantuan sederhana? Betapa banyak waktu yang telah saya buang dengan kesia-siaan karena tidak membantu orang lain.
Karena mengecilkan kemungkinan diri saya membawa keriaan, kehangatan bagi orang lain yang tidak saya kenal.

Malam ini saya malu dengan diri sendiri, saya malu pada petugas kebersihan itu, namun saya bahagia.
Bahagia karena hati hidung saya mencium aroma sedap Hazelnut Latte, lidah saya mencecap legitnya eclairs yang saya pesan sebagai pendamping dan yang terpenting, hati saya hangat oleh tindakan sederhana nan indah.
Mari berbagi manisnya ketulusan dan indahnya kebaikan hati….

Kalau saya lupa, tolong ingatkan ya! (ini pesan khusus saya untuk alam semesta)