The Ultimate Chicken Noodle (a Mouthful Medan)

The Top Toppings
Standard

Chicken Noodle (Mi Ayam) is one of generic for any meal time type of food in Indonesia.
It positioned at the same spot as fried rice (Nasi Goreng), padangnese platter (Nasi Padang), Chicken Porridge (Bubur Ayam) and Meatball soup noodle (Mi bakso).

You see, I am an ordinary Javanese women. I like chicken noodles, but I never took it seriously as a reputable dish. I tasted restaurant and branded bowls of chicken noodles. It never ranked as high-end food for me.

Then I married to a foodie family. Who took everything they eat seriously. My father in law will go climb the mountain or swim across the sea to find a tasteful meal.

It did happen for a chicken noodles from Medan.

The humble restaurant located at the corner Gwandu Street or Jl. Perniagaan, Medan. You won’t miss it. It will be the busy vendor at the afternoon until midnight. It called “Mi Ayam Akong/ Acim“.

The creator is Mrs. Acim. Her magical hands delivered an extraordinary recipe for the Ultimate chicken noodles.

Now, her son Akong, continuing her mother’s path to keep the recipe at their family.

God knows how many chicken noodle I’ve tasted. From restaurants, street vendors, home-made, five stars hotel, branded, chained, food court style, etc. Some of them are great, some good, most of them mediocre if not bad.

Just like the other delicacy from Medan I’ve tasted, I knew it from reheated ones. My mother in law brought back from Medan, put it on freezer. If we want to eat it, we melt it with microwave and boil the broth. Even when the food was post freezing dormant, exposed to multiple heat exposure still make me fall in love.

Yeah, I’m in love with this dish without tasting the fresh ones.

Love at the first slurp

What’s to love from a simple chicken noodle?
The answer is, What’s NOT to love?

The egg noodles, it’s freshly made. Al dente enough to give you something to bite for, but not rubbery. The brown sauce used to coated boiled noodles is to die for.

look at that secret brown sauce!

Behind the scene of the ultimate chicken noodles


I’m guessing it is reduced broth from shrimp’s head, chicken bones and more. They are certain that their noodles Halal or pork free.

A small bowl of clear broth the served with. Silent tune that sings “chicken broth” in the subtle way yet still palatable. Seasoning is excellent in most harmonious way between simple salt and pepper.

Clear chicken broth

Clear chicken broth

The shrimp dumplings is the prima donna of the dish. A tube form of dumpling, using tofu skin to rolled the shrimp meat then deep-fried. While wait our bowls of noodles ready we munch on the dumplings dipped it to their special sambal. Just in minutes me and my husband finished five little serve plates of it. Again, the seasoning is superb.

Fried shrimp dumplings

Fried shrimp dumplings

For your information, my taste buds are sensitive to salt. I will know and despise when the food is way too salty. Most of chinese food are too salty for me. But not this one! Mr. Akong and his daughter seasoned the dumpling very lightly so the shrimp still shines.

The other condiments to the noodles are half of boiled egg, shredded chicken, scallions, cakwe, fish meatball and fried red onions. Every little item is prepared carefully. The boiled egg cooked perfectly with only slightly grey ring around the yolk.

The Top Toppings

The Top Toppings

The sambal and pickled chillies make this dish a bowl of heaven with rainbow, angles and everything. I’m flying and speechless. Suddenly my eyes filled with tears of joy.

A bowl of heaven

A bowl of heaven

This is my ultimate chicken noodles of all time. After this, I just can’t take any mediocre ones.

Whenever you got a chance to visit Medan at North Sumatera, Indonesia you should ask the local about this. Remember the name: Mi Pangsing Acim/ Akong at Perniagaan street.

Mi Balap, Hidangan Cepat Saji Sambil Olahraga (a Mouthful Medan)

Sahaja kaya rasa, sedap!
Standard

Bila saya mendengar kata Balap, ingatan saya melayang pada kaki-kaki kekar atlet mengayuh sepeda atau derungan mesin motor di arena balap yang berdebu.
Di Medan, saya temukan penggunaan lain kata Balap. Disana, kata balap diletakkan berdekatan dengan hidangan berbasis mi dan variasinya. Entah kwetiaw, mi biasa hingga bihun.

Berhubung saya bukan orang Medan, pertama kali saya mendengar mengenai mi balap ketika mencicipi sebungkus kwetiaw goreng beku yang baru saja dihangatkan.

Ternyata, saking lezatnya, keluarga suami yang lama tinggal di Medan seringkali membawa buah tangan berupa kwetiaw atau mi goreng balap matang yang kemudian dibekukan agar tahan lebih lama. Awalnya saya agak skeptis, masa sih kwetiaw goreng saja harus yang asalnya dari Medan? Apa kurang banyak tukang mi tek-tek hingga restoran yang menjagokan kwetiaw goreng dalam menunya di Jakarta ini?

Kemudian seperti yang seringkali terjadi saat saya bersikap sinis, saya kalah telak. Saya menundukkan kepala dan mengakui kenikmatan sebungkus kwetiaw goreng yang dibangkitkan kembali pasca dormansi es-nya. Angan-angan saya melayang, bila yang sudah dibekukan saja begitu enaknya bagaimana rasanya bila saya coba langsung setelah matang dalam keadaan panas?

Biar saya jelaskan disini kawan pembaca yang bersikap apriori dan sedang mengerutkan keningnya saat ini.

Hidangannya sendiri sebetulnya amat sederhana, hanya berupa kwetiaw atau mi atau bihun goreng dengan sedikit sayur dan telur. Itu saja. Tidak ada isian yang aneh-aneh atau hebat seperti daging, ikan atau apapun.

Tetapi seperti banyak mahakarya didunia ini, yang paling sederhanalah yang menunjukkan kehebatannya.

Saya paling suka kwetiaw gorengnya, walau setelah dicairkan di microwave lalu dihangatkan dengan wajan diatas kompor, konsistensinya tidak berubah.

Dari bungkusan, yang selama ini saya nikmati

Dari bungkusan, yang selama ini saya nikmati

Lembaran kwetiawnya berukuran lebih tipis dari kwetiaw basah pada umumnya, dengan lebar serupa sehingga terlihat nyaris transparan. Entah bahan pembuat kwetiaw tersebut berbeda dengan umumnya atau cara memasak tingkat tinggi yang digunakan penjualnya, rasanya sangat ringan. Bahkan tidak perlu mengunyah, lembaran-lembaran kwetiaw tersebut langsung hilang dimulut.

Untuk penggila mi dan pasta, mungkin akan setuju dengan umpatan Joe Bastianich juri acara Masterchef US: “The pasta is overcooked!”

Tidak al dente memang, tetapi menurut saya tidak juga kelewat matang. Ketahanan konsistensi inilah yang membuat saya heran. Bila mi atau pasta terlalu matang, ia tidak akan mampu menahan bentuknya dalam waktu lama apalagi melalui pemanasan berulang. Jangan lupa, kwetiaw yang digunakan juga relatif lebih tipis dibanding mi. Semakin kagumlah saya.

Ketika minggu lalu saya berkesempatan ke Medan, saya sempatkan langsung pergi ke kedai Mi Balap langganan keluarga suami. Hanya sebuah semi-kedai, berupa susunan kursi-meja beberapa baris di pekarang rumah seseorang yang atasnya diberi atap tenda.

Ternyata, Mi Balap di Jalan Darat no. 52 ini merupakan warung pertama yang menelurkan alternatif hidangan sarapan cepat saji di Medan. Kini konsepnya ditiru banyak penjual mi di lokasi yang berbeda.
Namun bagi foodie lokal sejati seperti tante saya, kedai inilah yang rasa dan kualitasnya terjaga sejak 30 tahun yang lalu, tetap nomor satu. Nampaknya banyak warga Medan yang setuju dengan tante saya, karena hidangan ini hanya tersedia semenjak pukul 7 pagi hari hingga menjelang siang saat habis.

Disinilah saya melihat arti “balap” yang sesungguhnya pada sebuah hidangan mi balap. Para foodie harus melihat, mengalami baru kemudian mencicipi hasilnya. Sebuah pertunjukan istimewa yang mengejawantahkan arti hidangan cepat saji dalam sebuah konteks berbeda.

Seluruh penjualnya adalah wanita keturunan tionghoa, etnis yang memang terkenal sebagai penjual berbagai jajanan top di medan.

Mereka mengorganisir kedainya bagai prajurit. Ada yang bersenjatakan handuk dileher, diposisikan sebagai pengaduk dan pemasak dekat tungku. Ada yang fokus menghadapi pembeli sekaligus pembagi porsi hidangan (akan dijelaskan kemudian). Adapula yang fokus pada ketersediaan piring, gelas, sendok, dll merangkap penyaji minuman serta hidangan jadi.

Sang komandan yang hanya turun pada saat-saat penting ketika dibutuhkan keterampilan (dan pengalaman) untuk meracik bumbu pada bahan mentah.
Seluruh prajurit yang terlibat adalah keluarga Cici Mei Mei, dikelola secara turun temurun dari Ama dan Popo (nenek dan ibunya). Semuanya terlihat sigap bergerak cepat dan tepat menjalankan fungsinya masing-masing.
(Sejarah lengkap Mi Balap dapat dilihat disini)

Jadi sistem “balap”-nya seperti ini,
Kita berdiri didepan pos terdepan, yang merupakan tempat pemilihan menu sekaligus pembagi porsi. Lalu langsung ke meja makan. Sementara seporsi pesanan kita berusaha mengejar secepat mungkin.

Pembeli hanya disediakan alternatif mi, kwetiaw, atau bihun goreng. Hanya ada 3 menu yang ditawarkan, dan spesialisasinya memang hanya versi “goreng” tanpa rebus. Saat memilih, pelanggan boleh membuat campurannya sendiri, mi campur bihun atau kwetiaw campur bihun, atau campur ketiganya atau campur nasi.

Pos 1: 3 baskom hidangan

Pos 1: 3 baskom hidangan

Selain pilihan bentuk karbohidrat yang disuka, kita juga dapat minta dimasakkan kembali atau langsung makan begitu saja. Bukan mentah tentu saja, karena pada pos pertama ini terdapat 3 baskom besar berisi hidangan yang tiga perempat matang. Dapat dimakan langsung atau dimasak kembali. Selanjutnya, pembeli juga dapat minta untuk ditambah telur atau tidak saat dimasak kembali.

Pengetahuan diatas memang hanya dimiliki oleh pelanggan lama. Berdiri saja disamping Cici dibawah ini, lalu pesan variasi mi yang disuka. Saya sendiri memilih kwetiaw campur bihun dimasak lagi tambah telur.
Bagi orang baru, akan sedikit menegangkan karena harus mencari tahu sistem dan bahasanya. Ketegangannya tidak jauh berbeda saat saya pertama kali mencoba memesan kopi di Starbucks.

Pos pertama: sebutkan kode pesanan!

Pos pertama: sebutkan kode pesanan!

Pos 1: Siap terima pesanan

Pos 1: Siap terima pesanan

Setelah kita pesan, Cici di pos satu tadi langsung menakar mi, bihun dan atau kwetiaw dalam piring-piring melamin. Untuk yang tidak minta dimasak, piring tersebut sekaligus menjadi piring saji tinggal tambah sumpit dan sambal saja. Bagi yang minta dimasak lagi, piring tadi digeser ke sisi kanannya yaitu pos kedua.

Pos 1: Tangan lincah menyiapkan per porsi

Pos 1: Tangan lincah menyiapkan per porsi


Pos 1: porsi tertakar

Pos 1: porsi tertakar

Pos kedua ini seperti arena balapnya. Disinilah Cici Mei Mei dan saudaranya berolahraga dan membalap diri sendiri untuk menciptakan hidangan dalam waktu sekejap. Sepertinya benar-benar sekejap karena tidak sampai lima menit kemudian sepiring kwetiaw-bihun goreng plus telur sudah mengepul diatas meja kami.

Pos 2: Ayo balaaaap!

Pos 2: Ayo balaaaap!

Saya terpana dengan kelincahan tangan dan goyangan badan si Cici saat menggongseng wajan besar diatas tungku. Tambahkan sedikit minyak, masukkan telur, masukkan sepiring mi yang sudah ditakar tadi lalu sreng-sreng-sreng dalam kecepatan cahaya yang sulit ditangkap kamera.

Pos 2: Balapan menggongseng mi dengan cepat

Pos 2: Balapan menggongseng mi dengan cepat

Pada saat yang sama piring saya sudah memanggil-manggil. Inilah saatnya saya merasakan kwetiaw balap yang baru masak, setelah 3 tahun merasakan versi yang dihangatkan kembali.

Suapan pertama saya tidak ingin menambah sambal. Saya ingin menikmati rasa asli masakan tersebut. Keharuman bawang putih yang dimenjadi bumbu dasarnya sungguh terasa. Begitu kwetiaw-bihun tersebut hinggap dilidah, tidak perlu dikunyah lagi langsung hilang begitu saja. Meninggalkan rasa gurih, sedikit sensasi asap dan sentuhan manis yang mengesankan.

Suapan berikutnya saya tambahkan sambalnya hingga maksimal. Sambal ini juga senjata rahasia sang penjual. Rasanya sangat berbeda dengan sambal mi goreng dari restoran manapun. Bahkan pembeli hanya diberikan dalam mangkuk mini untuk sambalnya. Bila suka pedas, harus meminta tambahan mangkuk mini tadi pada pelayannya.

Ledakan rasa pedas, gurih, gigitan asam dan keseimbangan indah antara asin dan manis serta tekstur kwetiaw bihun yang masih bisa digigit namun langsung lumer dilidah melebihi ekspektasi saya.

Sahaja kaya rasa, sedap!

Sahaja kaya rasa, sedap!

Mi balap, tidak hanya cepat disajikan, cepat pula dihabiskan. Hubungannya dengan olahraga adalah, proses memasaknya merupakan olah raga tersendiri bagi penjualnya. Sedangkan upaya menahan diri untuk tambah porsi kedua adalah olahraga mental bagi penggemar seperti saya.
Oh ya, tidak lupa kami memesan dua puluh bungkus untuk dibawa ke Jakarta. Sekarang sudah tersusun rapi menjadi penghuni lemari beku (freezer) kami.

Rijsttafel malam minggu

Standard

Rijsttafel di Indonesia, secara bebas dapat diartikan sebagai “makan besar”.
Bila kita perhatikan, hal ini menjadi kebiasaan baru masyarakat Indonesia. Paling tidak masyarakat Jakarta, yang terlihat jelas oleh saya.
Namun bukan versi rijsttafel konvensional yang isinya hidangan ala peranakan ataupun fiesta masakan padang, versi malam mingguan berbeda sama sekali.
Dari mana saya tahu?
Mudah saja, coba sama-sama kita lihat perubahan atmosfer di minimarket, supermarket dan hipermarket setiap malam minggu.

minimarket
supermarket

Tiba-tiba aktor-aktor pembelanja reguler (yaitu ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga atau pedagang) digantikan oleh kelompok pembelanja spesialis malam minggu. Siapakah mereka?
Mereka adalah para suami yang sengaja pulang cepat (sendiri atau mengajak anak-istrinya).
Aneka makanan beku (nugget, sosis, burger, bakso, es krim) kesukaan anaknya, durian monthong untuk istrinya, minuman bersoda, aneka roti-kue-biskuit adalah piala-piala kesuksesan hasil kerja sepanjang minggu untuk dibawa pulang.
Anak-anak remaja usia belasan tahun hingga awal duapuluhan yang telah mengumpulkan uang jajan khusus untuk dibelanjakan pada malam minggu.
Berbagai makanan ringan (Lays, Mr. Potato, Cheetos, Smax, Taro, Kacang Garuda, dll), minuman berkarbonasi (Coca cola, Pepsi, dll), lebih disukai yang beralkohol (Bir Bintang, Heineken, Mix Max, dll), aneka cokelat dan permen (Silver Queen, Cadbury, M&M’s, Van Houten, Yuppy, dll), es krim (Walls, Campina, Diamond, dll) dan mi instan (Pop Mie, Indomie, Supermie, Mie Sedap, Mie Nissin, dll) memenuhi keranjang belanjaan mereka.

mi instan
soda

Para wanita atau pria single yang bersiap untuk malam mingguan namun membutuhkan quick fix. Kelompok ini akan mencari spons bedak, bedak padat, lipstik, lipgloss, pembalut wanita, kapas kecantikan, penyegar mulut/ obat kumur, permen karet, minuman berenergi (Lipovitan, Kratingdaeng, dll), pewarna rambut, aneka lotion kulit, kondom, pil KB, dan benda lain sejenisnya.
Pemuda-pemudi yang akan menghabiskan malam mingguan di depan televisi atau komputer.
Mereka memborong DVD bajakan, pop corn siap makan ataupun yang dimasak microwave, makanan dan minuman ringan dan mi instan.
Gairan malam minggu rupanya tidak berhenti hingga pintu keluar toko.
Penjual makanan di beranda toko pun mendulang rejeki lebih dari biasanya. Aneka gorengan, martabak manis, martabak telur, jus buah, kue pukis atau tukang apapun yang bertengger pasti akan laku terjual.
Bisa mulai dibayangkan bila semua makanan itu digelar di meja makan, jadilah rijsttafel versi urban.
Bersambung ke bagian 2