Guess what? This time I did it! (successful attempt deconstructing rendang flavor, my way)

Mi Kuah Sapi Poyah by Mayang
Standard

If you are regular to norecipejuststory blog, then you must know that I can’t follow recipe to cook (hence the blog’s name).

My style of cooking is to wing it. No measurements, just follow my intuition and my taste buds. Most of the time, I produce average meal that eatable and suitable for daily menu. When holiday or ceremonial day come, I’m getting nervous badly. I know, I don’t have the patience to cook a whole set of feast meal. So, I winged it and this was what I came up with.

Ied day or Lebaran in bahasa in my family and the in laws require special set of menu that become tradition every year.

My mum’s menu for Lebaran day were: Sayur Pepaya Muda Ebi (Shredded unripe papaya in spicy coconut milk soup with dried shrimp), Gulai Ayam (Chicken curry with Sundanese twist), Rendang (her version of Beef Rendang) and Sambal goreng hati – udang – petai  (Shrimp-beef liver- stinky bean stir fry in chili sauce).

While my mother in law’s menu were: Gulai itik lado mudo (Padangnese version of green duck curry: green color came from green chili paste), Tauco Udang (Shrimp and tofu in salty fermented liquid been sauce and chilies), Gulai Pepaya Muda (Julienned unripe papaya in coconut milk and turmeric soup), Rendang kering (her version of Beef Rendang).

You can click on each text to access one version of it recipe. Not our family’s recipe, just to give better description. Oh, some of the recipe in bahasa, so you can use Google translator if needed.

So, whats the common dish between two family? Yes Beef Rendang. Although my mother’s style very different than my mother in law’s, beef rendang still a crowd pleaser. That’s why, I racked my brain out to make something very simple yet with the flavor of rendang.

The final result is, I make something I called Mi Siram Sapi Poyah.

Its basically boiled noodle or any other type of long pasta ( I made mine fresh by the way), with very-very beefy broth (extra shredded beef were added in the broth); tomato, celery and lime salsa, fried tofu and spicy toasted coconut sprinkles (made from freshly shredded coconut). Also a creamy peanut based chili sambal for extra heat.

I know it may look too simple to mimic the complex beef rendang, but somehow it worked. The flavor and fragrant of rendang came from the spicy toasted coconut.

I’m adding rendang wet paste (i winged my mother recipe) and the powdered ones to a freshly shredded coconut, mix them well on a non stick pan without using oil. It takes quite some time until all the coconut absorb the paste and toasted, change color, dried out and became sprinkleable.

English: Rendang, beef cooked in spices and co...

English: Rendang, beef cooked in spices and coconut milk. 日本語: ルンダン(牛肉とスパイスをココナッツミルクで2時間煮込む) (Photo credit: Wikipedia)

One of my food critic is my husband. When he said my beefy noodle tasty and remind him with rendang, then he add more noodles to his bowl, I know I succeed this time. Ooh the sweet taste of victory…..

The unique fact is that the broth are so beefy and tasty, anyone who ate one portion keep adding more noodles to  the remains of the broth on the bottom of their bowl.

Deconstructed Rendang and Ketupat: Mi Kuah Sapi Poyah

Deconstructed Rendang and Ketupat: Mi Kuah Sapi Poyah

It tasted very beefy, light and fresh but also spicy and herby similar to rendang.

It so easy to make. I’m making this dish in my holiday menu.

Advertisements

Mi Balap, Hidangan Cepat Saji Sambil Olahraga (a Mouthful Medan)

Sahaja kaya rasa, sedap!
Standard

Bila saya mendengar kata Balap, ingatan saya melayang pada kaki-kaki kekar atlet mengayuh sepeda atau derungan mesin motor di arena balap yang berdebu.
Di Medan, saya temukan penggunaan lain kata Balap. Disana, kata balap diletakkan berdekatan dengan hidangan berbasis mi dan variasinya. Entah kwetiaw, mi biasa hingga bihun.

Berhubung saya bukan orang Medan, pertama kali saya mendengar mengenai mi balap ketika mencicipi sebungkus kwetiaw goreng beku yang baru saja dihangatkan.

Ternyata, saking lezatnya, keluarga suami yang lama tinggal di Medan seringkali membawa buah tangan berupa kwetiaw atau mi goreng balap matang yang kemudian dibekukan agar tahan lebih lama. Awalnya saya agak skeptis, masa sih kwetiaw goreng saja harus yang asalnya dari Medan? Apa kurang banyak tukang mi tek-tek hingga restoran yang menjagokan kwetiaw goreng dalam menunya di Jakarta ini?

Kemudian seperti yang seringkali terjadi saat saya bersikap sinis, saya kalah telak. Saya menundukkan kepala dan mengakui kenikmatan sebungkus kwetiaw goreng yang dibangkitkan kembali pasca dormansi es-nya. Angan-angan saya melayang, bila yang sudah dibekukan saja begitu enaknya bagaimana rasanya bila saya coba langsung setelah matang dalam keadaan panas?

Biar saya jelaskan disini kawan pembaca yang bersikap apriori dan sedang mengerutkan keningnya saat ini.

Hidangannya sendiri sebetulnya amat sederhana, hanya berupa kwetiaw atau mi atau bihun goreng dengan sedikit sayur dan telur. Itu saja. Tidak ada isian yang aneh-aneh atau hebat seperti daging, ikan atau apapun.

Tetapi seperti banyak mahakarya didunia ini, yang paling sederhanalah yang menunjukkan kehebatannya.

Saya paling suka kwetiaw gorengnya, walau setelah dicairkan di microwave lalu dihangatkan dengan wajan diatas kompor, konsistensinya tidak berubah.

Dari bungkusan, yang selama ini saya nikmati

Dari bungkusan, yang selama ini saya nikmati

Lembaran kwetiawnya berukuran lebih tipis dari kwetiaw basah pada umumnya, dengan lebar serupa sehingga terlihat nyaris transparan. Entah bahan pembuat kwetiaw tersebut berbeda dengan umumnya atau cara memasak tingkat tinggi yang digunakan penjualnya, rasanya sangat ringan. Bahkan tidak perlu mengunyah, lembaran-lembaran kwetiaw tersebut langsung hilang dimulut.

Untuk penggila mi dan pasta, mungkin akan setuju dengan umpatan Joe Bastianich juri acara Masterchef US: “The pasta is overcooked!”

Tidak al dente memang, tetapi menurut saya tidak juga kelewat matang. Ketahanan konsistensi inilah yang membuat saya heran. Bila mi atau pasta terlalu matang, ia tidak akan mampu menahan bentuknya dalam waktu lama apalagi melalui pemanasan berulang. Jangan lupa, kwetiaw yang digunakan juga relatif lebih tipis dibanding mi. Semakin kagumlah saya.

Ketika minggu lalu saya berkesempatan ke Medan, saya sempatkan langsung pergi ke kedai Mi Balap langganan keluarga suami. Hanya sebuah semi-kedai, berupa susunan kursi-meja beberapa baris di pekarang rumah seseorang yang atasnya diberi atap tenda.

Ternyata, Mi Balap di Jalan Darat no. 52 ini merupakan warung pertama yang menelurkan alternatif hidangan sarapan cepat saji di Medan. Kini konsepnya ditiru banyak penjual mi di lokasi yang berbeda.
Namun bagi foodie lokal sejati seperti tante saya, kedai inilah yang rasa dan kualitasnya terjaga sejak 30 tahun yang lalu, tetap nomor satu. Nampaknya banyak warga Medan yang setuju dengan tante saya, karena hidangan ini hanya tersedia semenjak pukul 7 pagi hari hingga menjelang siang saat habis.

Disinilah saya melihat arti “balap” yang sesungguhnya pada sebuah hidangan mi balap. Para foodie harus melihat, mengalami baru kemudian mencicipi hasilnya. Sebuah pertunjukan istimewa yang mengejawantahkan arti hidangan cepat saji dalam sebuah konteks berbeda.

Seluruh penjualnya adalah wanita keturunan tionghoa, etnis yang memang terkenal sebagai penjual berbagai jajanan top di medan.

Mereka mengorganisir kedainya bagai prajurit. Ada yang bersenjatakan handuk dileher, diposisikan sebagai pengaduk dan pemasak dekat tungku. Ada yang fokus menghadapi pembeli sekaligus pembagi porsi hidangan (akan dijelaskan kemudian). Adapula yang fokus pada ketersediaan piring, gelas, sendok, dll merangkap penyaji minuman serta hidangan jadi.

Sang komandan yang hanya turun pada saat-saat penting ketika dibutuhkan keterampilan (dan pengalaman) untuk meracik bumbu pada bahan mentah.
Seluruh prajurit yang terlibat adalah keluarga Cici Mei Mei, dikelola secara turun temurun dari Ama dan Popo (nenek dan ibunya). Semuanya terlihat sigap bergerak cepat dan tepat menjalankan fungsinya masing-masing.
(Sejarah lengkap Mi Balap dapat dilihat disini)

Jadi sistem “balap”-nya seperti ini,
Kita berdiri didepan pos terdepan, yang merupakan tempat pemilihan menu sekaligus pembagi porsi. Lalu langsung ke meja makan. Sementara seporsi pesanan kita berusaha mengejar secepat mungkin.

Pembeli hanya disediakan alternatif mi, kwetiaw, atau bihun goreng. Hanya ada 3 menu yang ditawarkan, dan spesialisasinya memang hanya versi “goreng” tanpa rebus. Saat memilih, pelanggan boleh membuat campurannya sendiri, mi campur bihun atau kwetiaw campur bihun, atau campur ketiganya atau campur nasi.

Pos 1: 3 baskom hidangan

Pos 1: 3 baskom hidangan

Selain pilihan bentuk karbohidrat yang disuka, kita juga dapat minta dimasakkan kembali atau langsung makan begitu saja. Bukan mentah tentu saja, karena pada pos pertama ini terdapat 3 baskom besar berisi hidangan yang tiga perempat matang. Dapat dimakan langsung atau dimasak kembali. Selanjutnya, pembeli juga dapat minta untuk ditambah telur atau tidak saat dimasak kembali.

Pengetahuan diatas memang hanya dimiliki oleh pelanggan lama. Berdiri saja disamping Cici dibawah ini, lalu pesan variasi mi yang disuka. Saya sendiri memilih kwetiaw campur bihun dimasak lagi tambah telur.
Bagi orang baru, akan sedikit menegangkan karena harus mencari tahu sistem dan bahasanya. Ketegangannya tidak jauh berbeda saat saya pertama kali mencoba memesan kopi di Starbucks.

Pos pertama: sebutkan kode pesanan!

Pos pertama: sebutkan kode pesanan!

Pos 1: Siap terima pesanan

Pos 1: Siap terima pesanan

Setelah kita pesan, Cici di pos satu tadi langsung menakar mi, bihun dan atau kwetiaw dalam piring-piring melamin. Untuk yang tidak minta dimasak, piring tersebut sekaligus menjadi piring saji tinggal tambah sumpit dan sambal saja. Bagi yang minta dimasak lagi, piring tadi digeser ke sisi kanannya yaitu pos kedua.

Pos 1: Tangan lincah menyiapkan per porsi

Pos 1: Tangan lincah menyiapkan per porsi


Pos 1: porsi tertakar

Pos 1: porsi tertakar

Pos kedua ini seperti arena balapnya. Disinilah Cici Mei Mei dan saudaranya berolahraga dan membalap diri sendiri untuk menciptakan hidangan dalam waktu sekejap. Sepertinya benar-benar sekejap karena tidak sampai lima menit kemudian sepiring kwetiaw-bihun goreng plus telur sudah mengepul diatas meja kami.

Pos 2: Ayo balaaaap!

Pos 2: Ayo balaaaap!

Saya terpana dengan kelincahan tangan dan goyangan badan si Cici saat menggongseng wajan besar diatas tungku. Tambahkan sedikit minyak, masukkan telur, masukkan sepiring mi yang sudah ditakar tadi lalu sreng-sreng-sreng dalam kecepatan cahaya yang sulit ditangkap kamera.

Pos 2: Balapan menggongseng mi dengan cepat

Pos 2: Balapan menggongseng mi dengan cepat

Pada saat yang sama piring saya sudah memanggil-manggil. Inilah saatnya saya merasakan kwetiaw balap yang baru masak, setelah 3 tahun merasakan versi yang dihangatkan kembali.

Suapan pertama saya tidak ingin menambah sambal. Saya ingin menikmati rasa asli masakan tersebut. Keharuman bawang putih yang dimenjadi bumbu dasarnya sungguh terasa. Begitu kwetiaw-bihun tersebut hinggap dilidah, tidak perlu dikunyah lagi langsung hilang begitu saja. Meninggalkan rasa gurih, sedikit sensasi asap dan sentuhan manis yang mengesankan.

Suapan berikutnya saya tambahkan sambalnya hingga maksimal. Sambal ini juga senjata rahasia sang penjual. Rasanya sangat berbeda dengan sambal mi goreng dari restoran manapun. Bahkan pembeli hanya diberikan dalam mangkuk mini untuk sambalnya. Bila suka pedas, harus meminta tambahan mangkuk mini tadi pada pelayannya.

Ledakan rasa pedas, gurih, gigitan asam dan keseimbangan indah antara asin dan manis serta tekstur kwetiaw bihun yang masih bisa digigit namun langsung lumer dilidah melebihi ekspektasi saya.

Sahaja kaya rasa, sedap!

Sahaja kaya rasa, sedap!

Mi balap, tidak hanya cepat disajikan, cepat pula dihabiskan. Hubungannya dengan olahraga adalah, proses memasaknya merupakan olah raga tersendiri bagi penjualnya. Sedangkan upaya menahan diri untuk tambah porsi kedua adalah olahraga mental bagi penggemar seperti saya.
Oh ya, tidak lupa kami memesan dua puluh bungkus untuk dibawa ke Jakarta. Sekarang sudah tersusun rapi menjadi penghuni lemari beku (freezer) kami.