Cooking while sleeping, use the leftovers

Standard

Although my spirit are high welcoming this year’s Ramadhan, me being my self, rolling back to my nature self. Only in two days!

Either I got up too early or too late, I just loosing power to cook something complicated. Besides, I had a huge pile of cold rice leftovers from the last 2 days my husband didn’t eat at home. I have to use that as soon as possible, or I’ll get headache seeing it in my fridge all the time.

Well the fool proof cooking while sleeping, or just feeling really really want to crawl back to my soft and smooth bed with warm fluffy blanket on cold room, are fried rice. My version of spicy and sweet fried rice. It’s a one pot wonder with just about everything I can find at my fridge. Either just eggs and rice, or chicken and anchovies, or bean sprout and eggs and mushroom. Anything is acceptable. So, this was how I did.

Garlic-chilli fried rice: behind the scene

Garlic-chili fried rice: behind the scene

Garlic-chili fried rice: Sahur day two (and three)

Garlic-chili fried rice: Sahur day two (and three)

Mayang style garlic-chili fried rice: Steamy, spicy, extra crunchy.

Another version of my fried rice: extra garlic, extra chili

Sambalku Pasporku

Standard

Kok bisa sambal jadi paspor?
Ya bisa saja, berhubung saya (dan terutama suami) penyuka pedas dan memiliki lidah yang sangat Indonesia. Sehingga ketika kami travelling keluar negeri, sambal adalah salah satu penyambung hidup disana.
Sambal amat vital fungsinya untuk mengurangi sensasi gegar budaya bagi kami ketika berkunjung ke negeri yang atmosfernya jauh berbeda dengan tanah air.
Dengan sambal kami dapat mentoleransi nasi kepal dingin yang dibeli di minimarket ketika tiba di Tokyo malam hari. Sambal juga penyelamat nafsu makan saat uang menipis dan terpaksa membeli “lauk aspal” dari mini market di Kyoto.
Ketika berusaha lebih adventurous kemudian mencoba sushi, setetes sambal yang saya selundupkan diantara acara jahe berhasil membuat hidangan tersebut lebih dihargai dan dinikmati.
Begitu pula saat menikmati masakan yang mirip dengan mie goreng di Bangalore. Yang walaupun terlihat merah namun rasanya manis. Saat sachet sambal dirobek, hidangan tadi berhasil diselamatkan.
Ayam panggang berbumbu kuat atau daging burger McDonald berbau kapulaga terasa lezat dengan kehadiran sambal kesayangan saya.
Walaupun kuliner di negara tetangga secara umum bisa ditoleransi tanpa sambal, namun saat bereksperimen ternyata rasa hidangannya semakin enak dengan setetes keajaiban sambal.
Kwetiaw rebus kuah ikan yang panas dan pedas, semangkuk laksa, bahkan chili crab di Singapura terasa lebih dahsyat bila ditambah sambalku.
Makanan di pesawat terbang atau sarapan di hotel seringkali terasa hambar dan tanpa rasa. Namun saya selalu dapat menikmati sesuatu dengan adanya olesan sambal.
Tentu kawan-kawan bertanya, sambal macam apa sih yang punya kekuatan magis seperti itu? Yang mampu menyulap semua hidangan menjadi lebih lezat dan terasa familiar.
Artikel ini bukan iklan bagi produk yang akan saya sebut. Terus terang saja bagi saya pribadi yang sudah berkelana dari merk sambal satu ke lainnya, produk inilah yang paling mengena di lidah saya dan suami.
Bila anda tidak setuju dengan saya, silahkan menyampaikan komentar.
Sambal ini memiliki konsistensi kekentalan yang berbeda dengan merk lain.
Dengan paduan bumbu yang pas antara keasaman, pedas, asin dan sedikit manis sehingga sensasi rasa sintetis atau istilah saya “bau plastik”-nya amat minimal.

Sambalku pasporku adalah Sambal Dua Belibis (saya menyebutnya “sambal belibis” saja).
Untuk bepergian saya memilih bentuk sachet, sehingga mudah diselipkan dalam tas. Sambal dan Paspor memiliki tempat teratas dalam daftar barang persiapan perjalanan saya dan suami.

sambal belibisku