Sunday morning breakfast at Medan? Soto Udang Kesawan

Standard

Medan is the paradise of delicious food, with an array of simple Chinese cuisines to heavy on spice Keling (Indian descents community), or ‘make your taste bud dancing’ malay delicacies. Breakfast is no different. You can find so many variety of breakfast in Medan, just ask around. One of my favourite is Soto Kesawan.

Soto is basically coconut milk based soup, completed with all kind of Indonesian herb and spices. It served piping hot with plain rice or lontong (rice cakes made in banana leaf) or ketupat (rice cakes made in coconut leaf).

Kesawan in the street name where the humble resto opens.

sotokesawan24_wm

Don’t be alarmed by the humble fasade, this resto served the best Medan style Soto. They sold out pretty quick specially in Sunday morning; you better get up fast.

Sumatran’s culture created hundreds of Soto varieties, and Soto Kesawan is characteristically Medan style Soto. Light coconut broth, the colour will be greyish due to loads of coriander seeds and cumin with less fresh tumeric in it.

You can choose the topping (or filling) of your choice; chunks of pre-fried chicken, cubes of boiled then fried beef, slices of deep fried cow’s lung or other inerts.

My lethal combo usually beef’s meat and lung. But whenever I’m in Medan at Kesawan street at 7 am in the morning, I have to order the shrimp.

sotokesawan07_wm

Look at this; they have the protein toppings of your choice (mine were shrimps and lungs- yumm), sliced potato fritters, sliced green onions and fried onions with that finger licking broth.

Yes, this is one of the great thing of eating Soto Medan at Medan. Specially at Kesawan street. They have the shrimp as the topping for your Soto. And those juicy big chunks of huge shrimps were so sweet and jolted millions of electric joy to your taste buds in the morning. Don’t forget to add their condiments which are sambal (chutney like- green chillies, splash of soy sauce, fried onions and lime).

sotokesawan16_wm

This is how most people ate the Soto with plain rice; my husband’s forever toppings is chicken (big chunks of them), he spooned the Soto over a plate of plain rice. I did the other way around with half a portion of rice but loads of broth every spoonful.

If you having a heavy drink night out before, this Soto Kesawan plus rice will cure any hang over. It’s savoury, its hot and its filling. Hmm, your tummy will immediately felt warm and fuzzy.

sotokesawan20_wm

My mom, hubby and the inlaws enjoying sunday morning breakfast at Kesawan, Medan

Advertisements

Pagi Sore (Kampung Madras, Medan, North Sumatera)

Image
Tunjang, my favorite dish in different spiciness

Tunjang, my favorite dish in different spiciness

The popular dish in menu, fried chicken: lean-clean-bone crunchy

The popular dish in menu, fried chicken: lean-clean-bone crunchy. They use free range young chicken, skinned, marinated and deep fried.

Sambal merah (red sambal), spicy goodness. Hot, salty and a touch sweet; perfect match to the fried chicken.

Sambal merah (red sambal), spicy goodness. Hot, salty and a touch sweet; perfect match to the fried chicken. My husband and I, usually need almost 10 mini plates of those.

Take a look a little closer to that fried chicken

Take a look a little closer to that fried chicken

This restaurant owned by the same family that run Pagi Sore restaurant at Padang, West Sumatera.

One of their speciality is making that gorgeous lean fried chicken. It looked like barely had any flesh, but the when you bite into it, savory and crunchy and yet still juicy. One piece of chicken is never enough. I had three and hubby got eight of those.

Drop by to Kampung Madras or Kampung Keling, when you at Medan and find Pagi-Sore to have a spicy feast.

Mi Balap, Hidangan Cepat Saji Sambil Olahraga (a Mouthful Medan)

Sahaja kaya rasa, sedap!
Standard

Bila saya mendengar kata Balap, ingatan saya melayang pada kaki-kaki kekar atlet mengayuh sepeda atau derungan mesin motor di arena balap yang berdebu.
Di Medan, saya temukan penggunaan lain kata Balap. Disana, kata balap diletakkan berdekatan dengan hidangan berbasis mi dan variasinya. Entah kwetiaw, mi biasa hingga bihun.

Berhubung saya bukan orang Medan, pertama kali saya mendengar mengenai mi balap ketika mencicipi sebungkus kwetiaw goreng beku yang baru saja dihangatkan.

Ternyata, saking lezatnya, keluarga suami yang lama tinggal di Medan seringkali membawa buah tangan berupa kwetiaw atau mi goreng balap matang yang kemudian dibekukan agar tahan lebih lama. Awalnya saya agak skeptis, masa sih kwetiaw goreng saja harus yang asalnya dari Medan? Apa kurang banyak tukang mi tek-tek hingga restoran yang menjagokan kwetiaw goreng dalam menunya di Jakarta ini?

Kemudian seperti yang seringkali terjadi saat saya bersikap sinis, saya kalah telak. Saya menundukkan kepala dan mengakui kenikmatan sebungkus kwetiaw goreng yang dibangkitkan kembali pasca dormansi es-nya. Angan-angan saya melayang, bila yang sudah dibekukan saja begitu enaknya bagaimana rasanya bila saya coba langsung setelah matang dalam keadaan panas?

Biar saya jelaskan disini kawan pembaca yang bersikap apriori dan sedang mengerutkan keningnya saat ini.

Hidangannya sendiri sebetulnya amat sederhana, hanya berupa kwetiaw atau mi atau bihun goreng dengan sedikit sayur dan telur. Itu saja. Tidak ada isian yang aneh-aneh atau hebat seperti daging, ikan atau apapun.

Tetapi seperti banyak mahakarya didunia ini, yang paling sederhanalah yang menunjukkan kehebatannya.

Saya paling suka kwetiaw gorengnya, walau setelah dicairkan di microwave lalu dihangatkan dengan wajan diatas kompor, konsistensinya tidak berubah.

Dari bungkusan, yang selama ini saya nikmati

Dari bungkusan, yang selama ini saya nikmati

Lembaran kwetiawnya berukuran lebih tipis dari kwetiaw basah pada umumnya, dengan lebar serupa sehingga terlihat nyaris transparan. Entah bahan pembuat kwetiaw tersebut berbeda dengan umumnya atau cara memasak tingkat tinggi yang digunakan penjualnya, rasanya sangat ringan. Bahkan tidak perlu mengunyah, lembaran-lembaran kwetiaw tersebut langsung hilang dimulut.

Untuk penggila mi dan pasta, mungkin akan setuju dengan umpatan Joe Bastianich juri acara Masterchef US: “The pasta is overcooked!”

Tidak al dente memang, tetapi menurut saya tidak juga kelewat matang. Ketahanan konsistensi inilah yang membuat saya heran. Bila mi atau pasta terlalu matang, ia tidak akan mampu menahan bentuknya dalam waktu lama apalagi melalui pemanasan berulang. Jangan lupa, kwetiaw yang digunakan juga relatif lebih tipis dibanding mi. Semakin kagumlah saya.

Ketika minggu lalu saya berkesempatan ke Medan, saya sempatkan langsung pergi ke kedai Mi Balap langganan keluarga suami. Hanya sebuah semi-kedai, berupa susunan kursi-meja beberapa baris di pekarang rumah seseorang yang atasnya diberi atap tenda.

Ternyata, Mi Balap di Jalan Darat no. 52 ini merupakan warung pertama yang menelurkan alternatif hidangan sarapan cepat saji di Medan. Kini konsepnya ditiru banyak penjual mi di lokasi yang berbeda.
Namun bagi foodie lokal sejati seperti tante saya, kedai inilah yang rasa dan kualitasnya terjaga sejak 30 tahun yang lalu, tetap nomor satu. Nampaknya banyak warga Medan yang setuju dengan tante saya, karena hidangan ini hanya tersedia semenjak pukul 7 pagi hari hingga menjelang siang saat habis.

Disinilah saya melihat arti “balap” yang sesungguhnya pada sebuah hidangan mi balap. Para foodie harus melihat, mengalami baru kemudian mencicipi hasilnya. Sebuah pertunjukan istimewa yang mengejawantahkan arti hidangan cepat saji dalam sebuah konteks berbeda.

Seluruh penjualnya adalah wanita keturunan tionghoa, etnis yang memang terkenal sebagai penjual berbagai jajanan top di medan.

Mereka mengorganisir kedainya bagai prajurit. Ada yang bersenjatakan handuk dileher, diposisikan sebagai pengaduk dan pemasak dekat tungku. Ada yang fokus menghadapi pembeli sekaligus pembagi porsi hidangan (akan dijelaskan kemudian). Adapula yang fokus pada ketersediaan piring, gelas, sendok, dll merangkap penyaji minuman serta hidangan jadi.

Sang komandan yang hanya turun pada saat-saat penting ketika dibutuhkan keterampilan (dan pengalaman) untuk meracik bumbu pada bahan mentah.
Seluruh prajurit yang terlibat adalah keluarga Cici Mei Mei, dikelola secara turun temurun dari Ama dan Popo (nenek dan ibunya). Semuanya terlihat sigap bergerak cepat dan tepat menjalankan fungsinya masing-masing.
(Sejarah lengkap Mi Balap dapat dilihat disini)

Jadi sistem “balap”-nya seperti ini,
Kita berdiri didepan pos terdepan, yang merupakan tempat pemilihan menu sekaligus pembagi porsi. Lalu langsung ke meja makan. Sementara seporsi pesanan kita berusaha mengejar secepat mungkin.

Pembeli hanya disediakan alternatif mi, kwetiaw, atau bihun goreng. Hanya ada 3 menu yang ditawarkan, dan spesialisasinya memang hanya versi “goreng” tanpa rebus. Saat memilih, pelanggan boleh membuat campurannya sendiri, mi campur bihun atau kwetiaw campur bihun, atau campur ketiganya atau campur nasi.

Pos 1: 3 baskom hidangan

Pos 1: 3 baskom hidangan

Selain pilihan bentuk karbohidrat yang disuka, kita juga dapat minta dimasakkan kembali atau langsung makan begitu saja. Bukan mentah tentu saja, karena pada pos pertama ini terdapat 3 baskom besar berisi hidangan yang tiga perempat matang. Dapat dimakan langsung atau dimasak kembali. Selanjutnya, pembeli juga dapat minta untuk ditambah telur atau tidak saat dimasak kembali.

Pengetahuan diatas memang hanya dimiliki oleh pelanggan lama. Berdiri saja disamping Cici dibawah ini, lalu pesan variasi mi yang disuka. Saya sendiri memilih kwetiaw campur bihun dimasak lagi tambah telur.
Bagi orang baru, akan sedikit menegangkan karena harus mencari tahu sistem dan bahasanya. Ketegangannya tidak jauh berbeda saat saya pertama kali mencoba memesan kopi di Starbucks.

Pos pertama: sebutkan kode pesanan!

Pos pertama: sebutkan kode pesanan!

Pos 1: Siap terima pesanan

Pos 1: Siap terima pesanan

Setelah kita pesan, Cici di pos satu tadi langsung menakar mi, bihun dan atau kwetiaw dalam piring-piring melamin. Untuk yang tidak minta dimasak, piring tersebut sekaligus menjadi piring saji tinggal tambah sumpit dan sambal saja. Bagi yang minta dimasak lagi, piring tadi digeser ke sisi kanannya yaitu pos kedua.

Pos 1: Tangan lincah menyiapkan per porsi

Pos 1: Tangan lincah menyiapkan per porsi


Pos 1: porsi tertakar

Pos 1: porsi tertakar

Pos kedua ini seperti arena balapnya. Disinilah Cici Mei Mei dan saudaranya berolahraga dan membalap diri sendiri untuk menciptakan hidangan dalam waktu sekejap. Sepertinya benar-benar sekejap karena tidak sampai lima menit kemudian sepiring kwetiaw-bihun goreng plus telur sudah mengepul diatas meja kami.

Pos 2: Ayo balaaaap!

Pos 2: Ayo balaaaap!

Saya terpana dengan kelincahan tangan dan goyangan badan si Cici saat menggongseng wajan besar diatas tungku. Tambahkan sedikit minyak, masukkan telur, masukkan sepiring mi yang sudah ditakar tadi lalu sreng-sreng-sreng dalam kecepatan cahaya yang sulit ditangkap kamera.

Pos 2: Balapan menggongseng mi dengan cepat

Pos 2: Balapan menggongseng mi dengan cepat

Pada saat yang sama piring saya sudah memanggil-manggil. Inilah saatnya saya merasakan kwetiaw balap yang baru masak, setelah 3 tahun merasakan versi yang dihangatkan kembali.

Suapan pertama saya tidak ingin menambah sambal. Saya ingin menikmati rasa asli masakan tersebut. Keharuman bawang putih yang dimenjadi bumbu dasarnya sungguh terasa. Begitu kwetiaw-bihun tersebut hinggap dilidah, tidak perlu dikunyah lagi langsung hilang begitu saja. Meninggalkan rasa gurih, sedikit sensasi asap dan sentuhan manis yang mengesankan.

Suapan berikutnya saya tambahkan sambalnya hingga maksimal. Sambal ini juga senjata rahasia sang penjual. Rasanya sangat berbeda dengan sambal mi goreng dari restoran manapun. Bahkan pembeli hanya diberikan dalam mangkuk mini untuk sambalnya. Bila suka pedas, harus meminta tambahan mangkuk mini tadi pada pelayannya.

Ledakan rasa pedas, gurih, gigitan asam dan keseimbangan indah antara asin dan manis serta tekstur kwetiaw bihun yang masih bisa digigit namun langsung lumer dilidah melebihi ekspektasi saya.

Sahaja kaya rasa, sedap!

Sahaja kaya rasa, sedap!

Mi balap, tidak hanya cepat disajikan, cepat pula dihabiskan. Hubungannya dengan olahraga adalah, proses memasaknya merupakan olah raga tersendiri bagi penjualnya. Sedangkan upaya menahan diri untuk tambah porsi kedua adalah olahraga mental bagi penggemar seperti saya.
Oh ya, tidak lupa kami memesan dua puluh bungkus untuk dibawa ke Jakarta. Sekarang sudah tersusun rapi menjadi penghuni lemari beku (freezer) kami.